Wednesday, June 17, 2015

BULAN CINTA


Marhaban Ya Ramadhan

Marhaban ahlan wa sahlan
(Selamat Datang (dengan Rela dan kekeluargaan))
Ya Ramadhan
(Duhai Ramadhan)
Ya Syahral Qur'aan 
(Duhai bulan Qur’aan)
Ya Syahran-Nur
(Duhai bulan bulan cahaya)
Ya Syahral-Ijtimaa'
(Duhai bulan bulan pertemuan)
Ya Syahral Fuqaraa
(Duhai bulan kaum miskin)
Ya Syahrat tawbati wal rujuu'
(Duhai bulan Tobat & Kembali)
Ya Syahrad du'aa'I wal wuquuf
(Duhai bulan Doa & Permohonan)
Ya Syahral fuqaraa'i wadh dhu'afaa'
(Duhai bulan Kaum miskin & Duafa)
Ya Syahral Ihsan
(Duhai bulan Kebaikan)
Ya Syahral 'ushat
(Duhai bulan bagi para Pendosa)
Ya Syahral Fawzi wal Falaah
(Duhai bulan Kemenangan dan Keberhasilan)
Ya Syahral Munaajaati wattasbih
(Duhai bulan Munajat & Pensucian)
Ya Syahral-da'wati wal-irsyaad
(Duhai bulan Seruan & Bimbingan)
Ya Syahral taraawiihi wal qiyaam
(Duhai bulan Tarawih & Berdiri)
Ya Syahral mashaabiiha wal qanaadiil
(Duhai bulan Lentera-Lentera & Segala Cahaya)
Ya Syahral Khazaa'ini wal kunuuz
 (Duhai bulan Kantung & Harta Karun)
Ya Syahral Malaa'ikati was-salaam
(Duhai bulan Malaikat-Malaikat & Keselamatan)
Ya Syahral ifthaari wal suhuur
(Duhai bulan Berbuka & Sahur)
Ya Syahral mutsiirati wal ashabb
(Duhai bulan Persemaian & Tuli dari segala dosa)
Ya Syahral ajri wal jazaa
(Duhai bulan Pembayaran kembali & Pemberian Pahala)
Ya  Syahrash shabri wash-shiyam
(Duhai bulan Sabar & Puasa)
Ya  Syahras-sa'aadah
(Duhai bulan Penuh Kegembiraan)
Ya  Syahral Miftaah
(Duhai bulan Kunci)
Ya Syahral washli wal wishal
(Duhai bulan Penyatuan & Pertemuan kembali)
Ya Syahral wadaadi wal muhabbah
(Duhai bulan Persahabatan & Cinta)

Ya Sayyidasy Syuhuur
(Duhai penghulu semua bulan)
Lam na'rif qadraka wa lam nahfazh hurmataka yaa syahral ghufraan
(Kami belum memperlakukanmu sesuai dengan kebesaran nilaimu, tidak pula mensucikanmu duhai bulan Pengampunan)
Fa ardha 'annaa wa laa tasykuu ilar-Rahmaan
(Namun demikian, ridhalah terhadap kami, jangan salahkan kami dihadapan Yang Maha Pengasih)
Wa Kun Syaahidan lanaa bi fadhli wa al-ihsan
(Bersaksilah untuk kami dengan Kebaikan dan Ihsan)


Diceritakan dari Salman Radhiallahu’anhu, Nabi Muhammad Shalallahu’alaihiwasallam memberikan khutbah kepada kami pada akhir hari bulan Sya'ban, baginda bersabda :

"Wahai manusia, telah hampir datang bulan suci Ramadhan yang penuh berkah, bulan yang didalamnya terdapat malam yang lebih baik dari ibadah seribu bulan. Bulan yang dijadikan oleh Allah, puasa pada siang harinya suatu kewajiban dan sholat pada malamnya (selain solat fardhu) sebagai sholat sunnah.

Siapa mendekatkan diri kepada Allah dengan amal kebaikan, pahalanya laksana orang yang melakukan kewajipan pada selain bulan Ramadhan.
Barangsiapa yang melakukan kewajiban di bulan tersebut, pahalanya laksana pahala orang yang melaksanakan tujuh puluh kewajiban di lain bulan suci Ramadhan.
Ia adalah bulan sabar, bagi orang yang bersabar tidak lain balasannya syurga,
dan merupakan bulan toleransi,
dan bulan ditambahkannya rizqi bagi orang Mukmin,
orang yang memberi buka puasa bagi orang yang berpuasa maka diampuni dosanya dan dibebaskan dari neraka dan baginya pahala seperti pahala orang yang diberinya berbuka puasa tanpa dikurangi sedikitpun pahalanya. Mereka bertanya : "Wahai Rasulullah Shalallahu’alaihiwasallam, tidaklah semua kami ini mampu memberikan makanan untuk berbuka puasa bagi orang lain? Maka Rasulullah Shalallahu’alaihiwasallam bersabda : "Allah akan memberikan pahala tersebut bagi orang yang memberikan makanan bagi orang yang berpuasa sekalipun hanya dengan satu biji kurma atau seteguk minuman air putih atau sepotong susu kering. 
Dan adalah Bulan Ramadhan awalnya (10 hari pertama) Rahmat, pertengahannya (10 hari kedua) Maghfirah (Keampunan) dan akhirnya (10 hari terakhir) Pembebasan dari neraka.
Sesiapa meringankan hamba sahayanya pada bulan itu Allah mengampuni dosanya dan dibebaskan dari neraka.
Maka perbanyakkanlah di  Bulan Ramadhan Empat (4) hal. Dua hal kamu mendapat Ridha Tuhanmu dan dua hal kamu tidak akan merasa puas dengannya. Adapun dua hal yang membuatkan kamu di-Ridhai Allah adalah : Mengucapkan dan bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan kamu mohon keampunan kepada-Nya. Adapun dua hal yang kamu tidak akan merasa puas dengannya adalah : Kamu minta syurga kepada-Nya dan minta perlindungan dari api neraka.
Dan sesiapa yang memberi minum orang yang berbuka puasa, maka Allah akan memberinya minum dari telagaku, sekali minum sahaja tidak akan haus selamanya sehingga masuk ke syurga ."

(Hadith riwayat Ibnu Khuzaimah dalam sahihnya dan diriwayatkan dari jalan al Baihaqi, dan diriwayatkan Abu Asy Syaikh Ibnu Hibban dalam at Tsawwab dengan ringkas (at Targhib wa at Tarhib II/94) dan Al Feqh Al Islamiy Wa Adillatuh (2/572))


Subhaanal malikil qudduus
Subhaanal malikil qudduus
Subhaanal malikil qudduus

“Allahumma inni a’udzu bi ridhooka min sakhotik
wa bi mu’afaatika min ‘uqubatik,
wa a’udzu bika minka
 laa uh-shi tsanaa-an ‘alaik,
anta kamaa atsnaita ‘ala nafsik” 
(Ya Allah, aku berlindung dengan keRidhoanMU dari kemarahanMU,
dan dengan kesalamatanMU dari hukumanMU
dan aku berlindung kepadaMU dari diriMU.
Tiada yang dapat memujiMU selayaknya Engkau dipuji,
Hanya Engkau-lah Yang mampu memuji diriMU sendiri)

Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’
 (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku)

Allahumma inna nas-aluka RidhoKa wal-Jannah
wa-na’uzubiKa min sakhathiKa wannaar
Allahumma innaka ‘afuwwun kariim
Tuhibbul  ‘afwa  fa’ fu  ‘anna
wa ‘an walidina wa ‘an jami’il mukminina walmukminat
walmuslimina walmuslimat,
birohmatika Ya arhamar-rohimiin
(Ya Allah, kami memohon dariMU RidhaMU dan Syurga
dan kami berlindung padaMu dari kemurkaanMU dan api neraka,
Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Mulia,
Engkau suka memberi ampun, maka ampunilah kami,
dan ibu bapaku, dan orang-orang mukmin lelaki dan perempuan,
orang-orang Islam lelaki dan perempuan, dengan RahmatMU, Duhai Yang Paling Penyayang dari seluruh penyayang.)

Hati-hati! Per-hati-kan-lah Hati!

AsSalamu'alaikum waRahmatuLLAH waBaraqatuh

Saudaraku, peradaban adalah adab manusia atau cara manusia beradab. Mutlak harus ada "aturan mainnya", ada peraturannya, ada hukum-hukumnya! Dan aturan itu harus dari Yang Satu Yang Paling Berkuasa, Yang Paling Berkehendak! Tidak lain tidak bukan harus dari Pencipta Manusia, Pencipta Alam Semesta ini beserta isinya! DIA lah ALLAH AZZA WA JALLA!
Pembahasan dan Pemikiran tentang "FREE WILL" atau Kehendak Bebas yang membolehkan manusia melakukan sesuatu sesuai kehendak dirinya...adalah tidak masuk diakal sama sekali! Berulang saya baca tentang Free Will itu! Iya Bagus pemaparannnya! iya bagus susunan katanya! Pinter keliatannya! Cerdas! Tapi sayangnya pemapar itu lompat-pikir dan lupa bahwa manusia itu banyak, berzaman-zaman dan ganas! Bukan hanya satu orang saja! Bukan dirinya saja! Dan bukan saat ini saja. Bila semua ber-"Free Will" maka akan berbenturanlah "Free Will" seseorang, sekelompok orang dengan "Free Will" orang lain atau kelompok lainnya!
Manusia adalah makhluk yang dimuliakan oleh penciptanya, yang tak akan mungkin ada satupun makhluk dapat menyamainNya sebagaimana DIA memuliakan hambaNya. Manusia diciptakan dengan baik, dalam keadaan baik dan diliputi oleh banyak kebaikan dari dan oleh Tuhan Yang Maha Baik, Allah Subhanahuwata'ala, Ar-Rahman Ar Rohim.
Maka Adab yang baik, yang mulia pun sudah semestinya melekat pada ummat manusia! Sudah Jatahnya Manusia, sehingga manusia bisa melakukannya!
Dan sebaik-baik adab adalah akhlak mulia yang diajarkan oleh Manusia Terbaik, Hamba TerbaikNya Allah Ta'aalaa, Dia lah Baginda Rasulullah Muhammad Shalallahu'alaihiwasallam! Pemimpin Para Nabi dan Rasul, Penutup Para Nabi dan Rasul, Penyempurna semua risalah yang dibawa Para Rasul dari Allah Azza Wa Jalla.


Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam bersabda:
"Sesungguhnya aku diutus semata-mata untuk menyempurnakan akhlak yang mulia"
(Hadits Riwayat Ibn Jarud)

Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam bersabda:
"Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak"
(Hadits Riwayat Al-Baihaqi)

Dari Sayyidina Jabir Radhiallahu'anhu meriwayatkan bahwa Baginda Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam bersabda:
"Diantara kamu orang yang paling aku cintai dan orang yang paling dekat kepadaku pada hari Kiamat ialah orang yang baik akhlaknya".
(Hadits Riwayat Imam At-Turmudzi)

Dari Sayyidina Abu Hurairah Radhiallahu'anhu meriwayatkan bahwa Baginda Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam telah ditanya amalan yang manakah dengannya ramai manusia akan memasuki syurga?
Baginda Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam bersabda:
"Taqwa (takut hanya kepada Allah Ta'aalaa) dan Akhlak Mulia".
Dan Baginda Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam ditanya amalan apakah yang dengannya ramai manusia akan ke neraka? Baginda Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam bersabda:
"Lidah dan Kemaluan (yang disalah gunakan / tidak adab)".
(Hadits Riwayat Imam At-Turmudzi)

Adab yang mulia itu lahir dari hati yang lembut yang di Rahmati oleh Allah Azza Wa Jalla. Bukan dari hati yang keras, keras dengan Ananiyah (ke-aku-an nya), keras dengan takabur-nya (kesombongannya).

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu'anhu, dari Nabi Muhammad Shalallahu'alaihiwasallam, Beliau bersabda:
“Tidak akan masuk sorga orang yang di dalam hatinya ada sifat sombong walaupun hanya sebesar zarrah (atom).”
Ada seorang laki-laki berkata:
“Sesungguhnya seseorang itu suka memakai pakaian yang bagus dan sandal (sepatu) yang bagus pula.”
Nabi Muhammad saw kembali bersabda:
“Sesungguhnya Allah itu Indah, suka pada Keindahan. Sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia.” 
(Hadits Riwayat Muslim)

Innahu laa yuhibbul mustakbiriin
Allah tidak mencintai orang-orang yang takabur.
(Al-Qur'anul Kariim, An-Nahl - 23)

Dan (ingatlah) ketika kami berfirman kepada malaikat: “Sujudlah kepada Adam.”Lalu mereka sekaliannya sujud melainkan Iblis; ia enggan dan takabur dan menjadilah ia golongan yang kafir.
(Al-Qur'anul Kariim, Al-Baqarah - 34)

TAKABUR ADALAH SIKAP UJUB:
Ujub itu merasa diri sendiri lebih hebat, lebih bagus dan lebih baik dari yang selainnya. Seperti yang dimiliki iblis

Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada Adam di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya; Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah."
(Al-Qur'anul Kariim, Al-A'raaf - 12)

TAKABUR ADALAH SIKAP MERENDAHKAN/MENGHINA ORANG LAIN:
Allah berfirman: "Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak ikut sujud bersama-sama mereka yang sujud itu?" Berkata Iblis:"Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk" 
(Al-Qur'anul Kariim, Al-Hijr - 32, 33)

TAKABUR ADALAH MENGANDALKAN AKAL LOGIKA ATAS PERINTAH ALLAH:
Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu semua kepada Adam", lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata:"Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?"
(Al-Qur'anul Kariim, Al-Isra' - 61) 

TAKABUR ADALAH MEMPERMASALAHKAN PERINTAH DAN LARANGAN ALLAH:
Dia (iblis) berkata: "Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau member tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil".
(Al-Qur'anul Kariim, Al-Isra' - 62)

Lalu bisakah kita? 
Tidak takabur? 
Mampukah kita terbebas dari masalah besar ini? 
Akan selamatkah kita dari bencana besar ini? Malapetaka besar ini? 
Tipu Daya besar ini?

Telah diceritakan oleh Ibnu al-Mubarak tentang seorang laki-laki yang bernama Khalid bin Ma’dan, dimana ia pernah bertanya kepada Mu’adz bin Jabal Radhiallaahu'anhu, salah seorang sahabat Nabi Muhammad Shalallahu'alaihiwasallam.

“Wahai Mu’adz! Ceritakanlah kepadaku suatu hadits yang telah engkau dengar langsung dari Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam, suatu hadits yang engkau hafal dan selalu engkau ingat setiap harinya disebabkan oleh sangat kerasnya hadits tersebut, sangat halus dan mendalamnya hadits tersebut. Hadits yang manakah yang menurut engkau yang paling penting?”

Kemudian, Khalid bin Ma’dan menggambarkan keadaan Mu’adz sesaat setelah ia mendengar permintaan tersebut, 
Mu’adz tiba-tiba saja menangis sedemikian rupa sehingga aku menduga bahwa beliau tidak akan pernah berhenti dari menangisnya. Kemudian, setelah beliau berhenti dari menangis, berkatalah Mu’adz: Baiklah aku akan menceritakannya, aduhai betapa rinduku kepada Rasulullah, ingin rasanya aku segera bersua dengan beliau.”

Selanjutnya Mu’adz bin Jabal Radhiallaahu'anhu. Ia mengisahkan sebagai berikut:
“Ketika aku mendatangi Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam, Beliau sedang menunggangi unta dan beliau menyuruhku untuk naik di belakang beliau. Maka berangkatlah aku bersama beliau dengan mengendarai unta tersebut. Sesaat kemudian beliau menengadahkan wajahnya ke langit, kemudian bersabdalah Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam:”

“Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah yang memberikan qodho (ketentuan) atas segenap makhlukNYA menurut kehendakNYA, ya Mu’adz!”. 
Aku menjawab, “Labbaik Yaa Sayyidal Mursaliin”.

“Wahai Mu’adz! Sekarang akan aku beritakan kepadamu suatu hadits yang jika engkau mengingat dan tetap menjaganya maka hadits ini akan memberi manfaat kepadamu di hadhirat Allah, dan jika engkau melalaikan dan tidak menjaga hadits ini maka kelak di Hari Qiyamah hujjahmu akan terputus di hadhirat Allah Ta’aalaa!”

“Wahai Mu’adz! Sesungguhnya Allah Tabaraka Wa Ta’ala telah menciptakan tujuh Malaikat sebelum Dia menciptakan tujuh langit dan bumi. Pada setiap langit tersebut ada satu Malaikat yang menjaga khazanah, dan setiap pintu dari pintu-pintu lelangit tersebut dijaga oleh seorang Malaikat penjaga, sesuai dengan kadar dan keagungan (Jalaalah) pintu tersebut.

Maka naiklah al-Hafadzah (malaikat-malaikat penjaga insan) dengan membawa amal perbuatan seorang hamba yang telah ia lakukan semenjak subuh hari hingga petang hari. Amal perbuatan tersebut tampak bersinar dan menyala-nyala bagaikan sinar matahari, sehingga ketika al-Hafadzah membawa naik amal perbuatan tersebut hingga ke langit dunia mereka melipat gandakan dan mensucikan amal tersebut. 
Dan ketika mereka sampai di pintu Langit Pertama, berkatalah Malaikat penjaga pintu kepada al-Hafadzah: “Pukulkanlah amal perbuatan ini ke wajah pemiliknya! 
Akulah ‘Shaahibul Ghiibah’, yang mengawasi perbuatan ghiibah (menggunjing orang), aku telah diperintah oleh Robb-ku untuk tidak membiarkan amal ini melewatiku untuk menuju ke langit yang berikutnya!”

Kemudian naiklah pula al-Hafadzah yang lain dengan membawa amal sholeh diantara amal-amal perbuatan seorang hamba. Amal sholeh itu bersinar sehingga mereka melipat-gandakan dan mensucikannya. Sehingga ketika amal tersebut sampai di pintu Langit Kedua, berkatalah Malaikat penjaga pintu kepada al-Hafadzah: 
“Berhentilah kalian! Pukulkanlah amal perbuatan ini ke wajah pemiliknya, karena ia dengan amalannya ini hanyalah menghendaki kemanfaatan duniawi belaka! 
Akulah ‘Malakal Fakhr’, malaikat pengawas kemegahan, aku telah diperintah Robb-ku untuk tidak membiarkan amal perbuatan ini melewatiku menuju ke langit berikutnya, sesungguhnya orang tersebut senantiasa memegahkan dirinya terhadap manusia sesamanya di lingkungan mereka!”. Maka seluruh malaikat melaknat orang tersebut hingga petang hari.

Dan naiklah al-Hafadzah dengan membawa amal seorang hamba yang lain. Amal tersebut demikian memuaskan dan memancarkan cahaya yang jernih, berupa amal-amal shodaqoh, sholat, shaum, dan berbagai amal bakti (al-birr) yang lainnya. 
Kecemerlangan amal tersebut telah membuat al-Hafadzah takjub melihatnya, mereka pun melipat-gandakan amal tersebut dan mensucikannya, mereka diizinkan untuk membawanya. Hingga sampailah mereka di pintu Langit Ketiga, maka berkatalah Malaikat penjaga pintu kepada al-Hafadzah: 
“Berhentilah kalian! Pukulkanlah amal ini ke wajah pemiliknya! 
Akulah ‘Shaahibil Kibr’, malaikat pengawas takabur (kesombongan), aku telah diperintah oleh Robb-ku untuk tidak membiarkan amal perbuatan seperti ini lewat dihadapanku menuju ke langit berikutnya! Sesungguhnya pemilik amal ini telah berbuat takabbur di hadapan manusia di lingkungan (majelis) mereka!”

Kemudian naiklah al-Hafadzah yang lainnya dengan membawa amal seorang hamba yang sedemikian cemerlang dan terang benderang bagaikan bintang-bintang yang gemerlapan, bagaikan Kaukab yang diterpa cahaya. 
Kegemerlapan amal tersebut berasal dari tasbih, shalat, shaum, haji dan umrah. Diangkatlah amalan tersebut hingga ke pintu Langit Keempat, dan berkatalah Malaikat penjaga pintu langit kepada al-Hafadzah:
 “Berhentilah kalian! Pukulkanlah amal ini ke wajah, punggung, dan perut dari si pemiliknya! Akulah ‘Shaahibul Ujbi’, malaikat pengawas ‘ujub (mentakjubi diri sendiri), aku telah diperintah oleh Robb-ku untuk tidak membiarkan amalan seperti ini melewatiku menuju ke langit berikutnya! Sesungguhnya si pemilik amal ini jika mengerjakan suatu amal perbuatan maka terdapat ‘ujub (takjub diri) didalamnya!”

Kemudian naiklah al-Hafadzah dengan membawa amal seorang hamba hingga mencapai ke Langit Kelima, amalan tersebut bagaikan pengantin putri yang sedang diiring, diboyong menuju ke suaminya. Begitu sampai ke pintu Langit Kelima, amalan yang demikian baik berupa jihad, haji dan umrah yang cahayanya menyala-nyala bagaikan sinar matahari. Maka berkatalah malaikat penjaga pintu kepada al-Hafadzah: 
“Berhentilah kalian! Pukulkanlah amal perbuatan ini ke wajah pemiliknya dan pikulkanlah pada pundaknya! 
Akulah ‘Shaahibul Hasad’, malaikat pengawas hasad (dengki), sesungguhnya pemilik amal ini senantiasa menaruh rasa dengki (hasad) dan iri hati terhadap sesama yang sedang menuntut ilmu, dan terhadap sesama yang sedang beramal yang serupa dengan amalannya, dan ia pun juga senantiasa hasad kepada siapapun yang berhasil meraih fadhilah-fadhilah tertentu dari suatu ibadah dengan berusaha mencari-cari kesalahannya! Aku telah diperintah oleh Robb-ku untuk tidak membiarkan amalan seperti ini melewatiku untuk menuju ke langit berikutnya!”

Kemudian naiklah al-Hafadzah dengan membawa amal perbuatan seorang hamba yang memancarkan cahaya yang terang benderang seperti cahaya matahari, yang berasal dari amalan menyempurnakan wudhu, shalat yang banyak, zakat, haji, umrah, jihad, dan shaum. Amal perbuatan ini mereka angkat hingga mencapai pintu Langit Keenam. Maka berkatalah malaikat penjaga pintu ini kepada al-Hafadzah: 
“Berhentilah kalian! Pukulkanlah amal perbuatan ini ke wajah pemiliknya, sesungguhnya sedikitpun ia tidak berbelas kasih kepada hamba-hamba Allah yang sedang ditimpa musibah (balaa’) atau ditimpa sakit, bahkan ia merasa senang dengan hal tersebut! 
Akulah ‘Shaahibur-Rahmah’, malaikat pengawas sifat rahmah (kasih sayang), aku telah diperintahkan Robb-ku untuk tidak membiarkan amal perbuatan seperti ini melewatiku menuju ke langit berikutnya!”

Dan naiklah al-Hafadzah dengan membawa amal perbuatan seorang hamba yang lain, amal-amal berupa shaum, shalat, nafaqah, jihad, dan wara’ (memelihara diri dari perkara-perkara yang haram dan subhat/meragukan). Amalan tersebut mendengung seperti dengungan suara lebah, dan bersinar seperti sinar matahari. Dengan diiringi oleh tiga ribu malaikat, diangkatlah amalan tersebut hingga mencapai pintu Langit Ketujuh. Maka berkatalah malaikat penjaga pintu kepada al-Hafadzah: 
“Berhentilah kalian! Pukulkanlah amalan ini ke wajah pemiliknya, pukullah anggota badannya dan siksalah hatinya dengan amal perbuatannya ini! 
Akulah ‘Shaahibudz-Dzikr’, malaikat pengawas perbuatan mencari nama-diri (ingin disebut-sebut namanya), yakni sum’ah (ingin termashur). Akulah yang akan menghijab dari Robb-ku segala amal perbuatan yang dikerjakan tidak demi mengharap Wajah Robb-ku! Sesungguhnya orang itu dengan amal perbuatannya ini lebih mengharapkan yang selain Allah Ta’ala, ia dengan amalannya ini lebih mengharapkan ketinggian posisi (status) di kalangan para fuqaha (para ahli), lebih mengharapkan penyebutan-penyebutan (pujian-pujian) di kalangan para ulama, dan lebih mengharapkan nama baik di masyarakat umum! Aku telah diperintah oleh Robb-ku untuk tidak membiarkan amalan seperti ini lewat dihadapanku! Setiap amal perbuatan yang tidak dilakukan dengan ikhlash karena Alloh Ta’ala adalah suatu perbuatan riya’, dan Allah tidak akan menerima segala amal perbuatan orang yang riya’!”

Kemudian naiklah al-Hafadzah dengan membawa amal perbuatan seorang hamba berupa shalat, zakat, shaum, haji, umrah, berakhlak baik, diam, dan dzikrullah Ta’ala. Seluruh malaikat langit yang tujuh mengumandang-kumandangkan pujian atas amal perbuatan tersebut, dan diangkatlah amalan tersebut dengan melampaui seluruh hijab menuju ke hadhirat Allah Ta’ala. Hingga sampailah dihadhiratNYA, dan para malaikat memberi kesaksian kepadaNYA bahwa ini merupakan amal sholeh yang dikerjakan secara ikhlash karena Allah Ta’ala.

Maka berkatalah Allah Ta’ala kepada al-Hafadzah, 
“Kalian adalah para penjaga atas segala amal perbuatan hambaKU, sedangkan Aku adalah Ar-Raqiib, Yang Maha Mengawasi atas segenap lapisan hati sanubarinya! Sesungguhnya ia dengan amalannya ini tidaklah menginginkan AKU dan tidaklah mengikhlashkannya untukKU! Amal perbuatan ini ia kerjakan semata-mata demi mengharap sesuatu yang selain AKU! 
AKU yang lebih mengetahui ihwal apa yang diharapkan dengan amalannya ini! Maka baginya laknatKU, karena ini telah menipu orang lain dan telah menipu kalian, tapi tidak-lah ini dapat menipu AKU! 
AKU-lah Yang Maha Mengetahui perkara-perkara yang ghaib, 
Maha Melihat segala apa yang ada di dalam hati, 
tidak akan samar bagi-Ku setiap apa pun yang tersamar, 
tidak akan tersembunyi bagiKU setiap apa pun yang bersembunyi! 
PengetahuanKU atas segala apa yang akan terjadi adalah sama dengan PengetahuanKU atas segala yang baqa (kekal), 
PengetahuanKU tentang yang awal adalah sama dengan PengetahuanKU tentang yang akhir! 
AKU lebih mengetahui perkara-perkara yang rahasia dan lebih halus, maka bagaimana AKU dapat tertipu oleh hambaKU dengan ilmunya? 
Bisa saja ia menipu segenap makhlukKU yang tidak mengetahui, tetapi AKU Maha Mengetahui Yang Ghaib, maka baginya laknatKU!”

Maka berkatalah malaikat yang tujuh dan 3000 malaikat yang mengiringi, 
“Yaa Robbana, tetaplah laknatMU baginya dan laknat kami semua atasnya!”, 
maka langit yang tujuh beserta seluruh penghuninya menjatuhkan la’nat kepadanya.

Setelah mendengar semua itu dari lisan Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam, maka menagislah Mu’adz dengan terisak-isak, dan berkata, “Wahai Rasulullah! Engkau adalah utusan Allah sedangkan aku hanyalah seorang Mu’adz, bagaimana aku dapat selamat dan terhindar dari apa yang telah engkau sampaikan ini?”

Berkatalah Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam:

“Wahai Mu’adz! Ikutilah Nabi-mu ini dalam soal keyakinan sekalipun dalam amal perbuatanmu terdapat kekurangan. 

Wahai Mu’adz! Jagalah lisanmu dari kebinasaan dengan meng-ghiibah manusia dan meng-ghiibah saudara-saudaramu para pemikul Al-Qur’aan. 

Tahanlah dirimu dari keinginan menjatuhkan manusia dengan apa-apa yang kamu ketahui ihwal aibnya! 

Janganlah engkau mensucikan dirimu dengan jalan menjelek-jelekan saudara-saudaramu!

Janganlah engkau meninggikan dirimu dengan cara merendahkan saudara-saudaramu!

Pikullah sendiri aib-aibmu dan jangan engkau bebankan kepada orang lain”

“Wahai Mu’adz! Janganlah engkau masuk kedalam perkara duniamu dengan mengorbankan urusan akhiratmu! 

Janganlah berbuat riya’ dengan amal-amalmu agar diketahui oleh orang lain 

dan janganlah engkau bersikap takabbur di majelismu sehingga manusia takut dengan sikap burukmu!”

“Janganlah engkau berbisik-bisik dengan seseorang sementara di hadapanmu ada orang lain! 

Janganlah engkau mengagung-agungkan dirimu dihadapan manusia, karena akibatnya engkau akan terputus dari kebaikan dunia dan akhirat! 

Janganlah engkau berkata kasar di majelismu 

dan janganlah engkau merobek-robek manusia dengan lisanmu, sebab akibatnya di Hari Qiyamah kelak tubuhmu akan dirobek-robek oleh anjing-anjing neraka Jahannam!”

“Wahai Mu’adz! Apakah engkau memahami makna Firman Allah Ta’ala: 
‘Wan naa syithooti nasython!’ 
(Demi yang mencabut/menguraikan dengan sehalus-halusnya! 
[Al-Qur'anul Kariim, An-Naazi’aat - 2])

Aku berkata, “Demi bapakku, Engkau, dan ibuku! Apakah itu wahai Rasulullah?”

Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam bersabda, “Anjing-anjing di dalam Neraka yang mengunyah-ngunyah daging manusia hingga terlepas dari tulangnya!”

Aku berkata, “Demi bapakku, engkau, dan ibuku! Ya Rasulullah, siapakah manusia yang bisa memenuhi seruanmu ini sehingga terhindar dari kebinasaan?”

Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam menjawab, “Wahai Mu’adz, sesungguhnya hal demikian itu sangat mudah bagi siapa saja yang diberi kemudahan oleh Allah Ta’ala! 
Dan untuk memenuhi hal tersebut, 
maka cukuplah engkau senantiasa berharap agar orang lain dapat meraih sesuatu yang engkau sendiri mendambakan untuk dapat meraihnya bagi dirimu, 
dan membenci orang lain ditimpa oleh sesuatu sebagaimana engkau benci jika hal itu menimpa dirimu sendiri! 
Maka dengan ini wahai Mu’adz engkau akan selamat, dan pasti dirimu akan terhindar!”

Khalid bin Ma’dan berkata, “Sayyidina Mu’adz bin Jabal Radhiallahu'anhu sangat sering membaca hadits ini sebagaimana seringnya beliau membaca Al-Qur’aan, dan sering mempelajari hadits ini sebagaimana seringnya beliau mempelajari Al-Qur’aan di dalam majelisnya”.

Astaghfirullahal'adziim
Laa ilaahailla anta, Subhaanaka, inni kuntu minadz dzoolimiin
Subhanakallahumma Ya Allah Tabaraka Wa Ta’ala,
Ya Ghofurur Rohiim,
Ya Arhamarrohimin irhamna birahmatika,
Allahumma innaka ‘Afuwwun Kariim, tuhibbul ‘afwa fa’fu anni Ya Kariim
Allahumma innii a'uudzu bika minka, laa uhshi tsa na an 'alaika, anta kamaa atsnaita 'alaa nafsik.

Saudaraku, mari kita perhatikan adab kita, akhlak kita, mari kita bersiap-siap untuk akhirat kita lebih dari persiapan kita pada urusan dunia kita.
Bersungguh-sungguhlah untuk menjadi hambanya yang sholeh, melakukan amal-amal sholeh, tanpa merasa kita telah menjadi hamba yang sholeh!
Teruslah memohon ampunanNYA!
Tetaplah merasa berdosa terhadap Allah! Dan yakinkanlah diri kita bahwa hanya kesombonganlah yang berani menyatakan diri ini tidak berdosa, tidak ada dosa!
Takutlah pada Allah!
Segeralah memohon ampunanNYA bila terjatuh dalam dosa!
Jangan berputus-asa terhadap ampunanNYA!
Jangan berprasangka buruk padaNYA!

Shalat-lah!
Semua amal ibadah terhimpun dalam Shalat!
Dzikir tertinggi adalah shalat!
Doa-doa berkumpul di dalam Shalat!
Juga Salam dan Shalawat!
Yang terus dan terus harus dilakukan, tanpa istirahat, tanpa bosan, tanpa kata sudah!
Sabar melakukannya hingga mati!


"Jadikanlah Sabar dan Shalat sebagai penolongmu dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', yaitu orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Rabb-nya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya."
(Al-Qur'anul Kariim, Al-Baqarah - 45, 46)


Dari Abu Yaala Syaddad bin Aus Radhiallahu'anhu, Nabi Shalallahu'alaihiwasallam bersabda: 
“Orang yang bijak itu ialah mereka yang perduli pada dirinya dan beramal untuk akhiratnya. Dan orang yang lemah itu ialah mereka yang menurutkan hawa nafsunya tapi bercita-cita untuk menjadi hamba Allah yang diRidhaiNya.”(Hadits Riwayat Imam At-Turmudzi)

Nabi Shalallahu'alaihiwasallam bersabda:
"Sesungguhnya Allah Subhanahuwata'ala mengasihi seorang apabila dia melakukan sesuatu pekerjaan dengan bersungguh-sungguh".(Hadits Riwayat Abu Yaala Syaddad bin Aus Radhiallahu'anhu)

Dari Abu Mas'ud, Uqbah bin Amru Al-Anshari Al-Badri Radhiallahu'anhu, dia berkata:
Telah bersabda Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam:
"Diantara sabda para Nabi yang terdahulu yang masih dipakai untuk orang ramai hingga kini ialah: Jika engkau tiada malu, buatlah sesuka hati kamu."

Dari Abu Hurairah Radhiallahu'anhu, dia berkata:
Telah bersabda Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam:
"Janganlah kamu berdengki-dengkian, 
dan jangan kamu tipu-menipu, 
dan jangan benci-membenci, 
dan jangan musuh memusuhi, 
dan jangan kamu berjual beli atas jual beli setengah yang lain, 
dan jadilah kamu sekalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. 
Seorang Muslim adalah bersaudara sesama Muslim, 
tidak boleh menganiayanya, 
tidak boleh membiarkannya tertindas,
 tidak boleh mendustainya 
dan tidak boleh menghinanya.
Taqwa itu berpuncak dari sini_sambil Nabi Shalallahu'alaihiwasallam menunjukkan ke dadanya tiga kali. 
Sudah memadailah kejahatan seorang itu jika ia menghina saudaranya yang Islam. Seorang Muslim terhadap seorang Muslim yang lain adalah diharamkan 
darahnya, 
harta bendanya 
dan kehormatannya."
Dari Thauban Radhiallahu'anhu meriwayatkan bahwa aku telah mendengar Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam bersabda:
 
Berbahagialah orang-orang yang ikhlas. Mereka adalah pelita di dalam gelap, dan karena mereka padamlah fitnah-fitnah yang besar.
(Hadits Riwayat Baihaqi)

Dari Muaz bin Jabal Radhiallahu'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Radhiallahu'anhu bersabda:
"Barangsiapa memalukan saudaranya yang muslim dengan sesuatu dosa yang dia telah bertaubat dengannya, Allah tidak akan mematikannya sehinggalah dia sendiri terjerumus ke dalam dosa tersebut."
(Hadits Riwayat Imam At-Turmudzi)

DAN HATI-HATI!
PER-HATI-KAN-LAH HATI!
Pada amalan itukah kita tertarik?
Merasa bisakah kita mencapai Ridha Allah?
Seolah-olah hanya ada diri kita saja dengan Allah?
Lupakah kita pada yang telah menyampaikannya pada kita?
Dari lisan suci Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam lah manusia bisa tau Allah!
Dan dari guru-guru sucilah_yang terus berada dihadiratNya Rasulullah Muhammad Shalallahu'alaihiwasallam_maka cinta ini bisa sampai pada kita!
RASAKANLAH!
RESAPILAH!

Dan....
Salah satu kisah Cinta itu:

Sayyidina Umar bin Khattab Radhiallahu'anhu ketika berkunjung ke rumah Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam menyaksikan Pemimpin Agung yang sangat dimuliakan itu sedang terbaring di atas tilam kasar nan rusak. 

Kesedihan Umar bertambah ketika tekstur tilam usang itu membekas di punggung Nabi Shalallahu'alaihiwasallam.
Di hadapan Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam, "Singa Padang Pasir" ini pun menumpahkan air matanya. 

"Apa yang menyebabkan Engkau menangis, wahai Umar?" tanya Baginda Nabi Shalallahu'alaihiwasallam.

"Aku melihat Kisra serta Raja-Raja lain menikmati tidur di atas ranjang mewah beralaskan sutera. Tetapi di sini Aku melihat Engkau tidur beralaskan tikar semacam ini."

Dengan lembut, Baginda Nabi Shalallahu'alaihiwasallam berkata kepada Sayyidina Umar bin Khattab Radhiallahu'anhu

"Wahai Umar, tidakkah Engkau sependapat denganku. Kita lebih suka memilih kebahagiaan akhirat sedangkan mereka memilih dunia."

Hati Sayyidina Umar bin Khattab Radhiallahu'anhu bergetar mendengar jawaban tersebut. 
Sayyidina Umar bin Khattab Radhiallahu'anhu bersyukur menjadi saksi hidup tentang kebesaran dan kemuliaan pribadi Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam, manusia terpilih yang sangat dihormatinya itu. 
*Kisra (Raja Persia), Kaisar (Raja Romawi)

------------------------------------------------------------------
Disusun dengan cinta untuk saudara-saudaraku tercinta semuanya.
Atas segala yang tidak berkenan, maafkanlah...
Maafkan pendosa ini,
Doakanlah juga saudaramu si fakir ini
-Muhammad Ihsan Kahfi As-Syatha-

Semoga Allah ta'ala bahagiakan kalian semua saudaraku, lahir-batin, dunia-akhirat,
Aamiin, aamiin, aamin Ya Robbal'alamin
AllahummaSholli waSallim waBaariq ala Sayyidina wa Mawlana Muhammad Shalallahu'alaihiwasallam.


Friday, May 29, 2015

BERDAMAILAH DENGAN DIRI SENDIRI

BERDAMAILAH DENGAN DIRIMU!

AsSalamu'alaikum waRahmatuLLAH waBaraqatuh

Saudaraku, begitu banyak nikmat yang Allah Azza Wa Jalla telah berikan pada kita, kita bahkan tidak akan mampu menghitung-hitung nya. Tak usahlah menghitung udara, sinar matahari, gravitasi, air, kesempatan, keselamatan, kepercayaanNYA yang sampai dibebaskan kita untuk melakukan apa saja, dibebaskannya kita untuk memimpin diri kita sendiri, untuk melakukan, menjalankan pilihan-pilihan dan impian-impian kita sebebas-bebasnya. Tak usahlah yang demikian, yang pasti sulit bagi kita untuk mengukurnya, 
yang pasti sulit bagi kita untuk menghitung-hitungnya...yang melekat dibadan kita saja, yang terlihat dan terasa saat ini...pakaian kita misalnya.
Bila kita coba memperhatikan pakaian kita sebentar saja, warna nya, ukurannya, bahannya, bagaimana ia dibuat dari awalnya, benang-benang awalnya, sampai tersusun menjadi kain, lalu diwarna, dipola, didisain, dijait, sampai dijualnya, dengan semua orang-orang yang terlibat dalam pengerjaannya dari awal, beserta keahlian dan tujuan orang-orang tersebut semuanya, sampailah kita memilihnya dan membelinya lalu mengenakannya! Untuk itu saja sudah lumayan menyita waktu kita, bahkan mungkin enggan, malah malas kita untuk mengingat-ingat, membayang-bayangkan sampai sejauh itu! 
Apalagi menghargainya! 
Apalagi memuji Allah Azza Wa Jalla yang telah menjadikan itu semua! 
Nyatalah...bukan saja malas, bosan atau lemah kita untuk memujiNYA. Bahkan kita tak akan mampu memujiNYA selayak seharusnya DIA dipuji.

TAPI! Bila kita telah melakukan suatu kebaikan untuk seseorang misalnya. Kita akan ingat sampai sekecil-kecilnya perbuatan baik kita itu. Dari peristiwanya, barangnya sampai berapa biaya yang dihabiskan, tenaga yang tercurah, waktu yang dipakai...bisa kita hitung semuanya. 
Ya kita bisa bilang saya ikhlas melakukannya! 
Tapi manakala orang itu membuat kita kecewa, mungkin dia kita anggap telah menyakiti kita, menyinggung perasaan kita, tak tau berterimakasih dan lain sebagainya...maka dengan mudah kita uraikan semua kebaikan kita itu! Ringan sekali lisan kita bercerita tentang apa yang telah kita perbuat padanya dan bagaimana kecewanya kita pada balasan yang kita rasakan. 
Ya ada sebagian orang yang bisa membungkusnya dengan kata-kata santun, yang lebih baik dari orang jujur tanpa saringan yang mengeluarkannya begitu saja. 
Lalu ada juga yang lebih mampu menahannya, lalu hanya membuat sindiran-sindiran yang ditujukan kepada orang itu. Walau dengan kata-kata suci atau kata-kata bijaksana seindah apapun dan sebaik apapun...tetap digerakkan dari niat menyindir, yang mungkin penyindir itu sendiri pun tak menyadarinya sama sekali...bahwa dia tengah menyindir, dia tengah terluka, dia tengah kecewa!
Bahkan ada juga yang lebih kuat lagi menahan kecewanya, dia malah mendoakan orang itu dengan segala kebaikan begini-begitu, tapi dihati kecilnya ada harapan orang itu akan mendapatkan balasan yang setimpal atau berharap suatu saat orang itu sadar atau mengerti bahwa saya telah berbuat baik padanya! Terluka-terluka juga.

Saudaraku, kita tak akan bisa rela apalagi ikhlas bila masih ada pihak ketiga. 
Bila masih butuh pemirsa! 
Bila masih butuh siaran! 
Maka kita masih terluka! Kita belum rela! Apalagi ikhlas!
Bila Rela itu kita menerima semuanya dengan senang hati tanpa terluka sedikitpun, tak perduli malah dengan bagaimana keadaan kitanya. Maka ikhlas hanya Allah Azza Wa Jalla saja yang ada dihadapannya...bukan masalah-masalahnya.

Ya, tidak mudah! Ya, teramat sukar untuk kita dapat berbuat seperti itu. 
Ujian demi ujian akan datang silih berganti untuk menguatkan kita. Menggosok hati kita! Seperti digosoknya batu-batu indah agar keluar keindahannya! Keindahan hati kita. Tanda Allah tengah memuji DiriNYA sendiri akan ciptaanNYA...Hati kita...satu-satunya tempatNYA pada diri kita. 
Yang tanpa bosan tanpa letih ujian itu datang! Meningkat dan terus meningkat kesulitannya! Bertubi-tubi! Yang semuanya sesungguhnya adalah sebagai tanda betapa Sayangnya dan Sabarnya Allah Ta'ala dalam mendidik kita. Karena Allah adalah Rabb...Tuhan dengan Sifat-SifatNYA Yang Agung, Tuhan dengan segala Nama-NamaNYA Yang Baik dan Agung! Robbul'alamiin!

Hanya Allah lah Yang Maha Tahu, kita tidak tau apa-apa!
Allah Tahu dari hati yang bagaimana keluarnya segala perbuatan yang kita perbuat. 
Apa yang tersembunyi dibalik perbuatan dan keinginan kita itu! Sekecil apapun itu! Yang bahkan kita sendiri tidak mengetahuinya...adalah Allah Azza Wa Jalla Tahu itu semua...semuanya! 
Tak ada yang tersembunyi! 
Tak ada yang luput dari Pandangan dan PengetahuanNYA!

Lalu diri ini malah pandai berkata-kata yang berpotensi mengundang kemurkaanNYA...
Kalau Allah sudah tentukan semua lalu untuk apa kita berusaha! 
Kalau Allah tau kenapa saya tidak ditolong!
Apa gunanya kita dikasih akal?
Mana kehendak bebas kita?

Dari pertanyaan tersebut saja...sang diri sudah membuat pernyataan tegas bahwa perbuatan Allah serupa dengan perbuatan dirinya. Lalu dipersoalkannya masa depannya! Digugatnya! Sementara semua yang telah terjadi, bahkan sedetik lalupun dari apa yang telah diperbuatnya, apa yang telah didapatkannya, apa yang telah terjadi pada dirinya...pertemuannya...bertemunya dirinya dengan ketentuan-ketentuanNYA, semisal mengangkat gelas ke mulutnya saja luput dari syukurnya!
Astaghfirullahal'adzim, faghfirli dzanbi jamii'an Yaa Ghofuurur Rohiim.

Allah Maha Tahu! Dan tidak serupa dengan kita TahuNYA Allah!
Allah Maha Berkehendak! Dan tidak serupa dengan kita segala KehendakNYA!
Jangankan serupa...mengerti pun kita takkan sanggup!
Maka nyatalah kita membutuhkanNYA!
Bukan Allah yang butuh kita!
Maha Tinggi, Maha Agung, Maha Perkasa Allah yang semua KeagunganNYA tidaklah membutuhkan sesuatu untuk menopang, membantu, menambah untuk menjadikanNYA Agung!

Saudaraku, marilah kita berdamai dengan diri kita sendiri. Semua yang telah terjadi terimalah sebagai KetentuanNYA yang sudah pasti terjadi. Katakanlah:
Qodarulloh wa maa syaa a fa’al
(Telah ditakdirkan oleh Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi)

Berterimakasihlah pada Allah!
Bersyukurlah pada Allah!
Mohonkanlah MaafNYA,  mohonkanlah AmpunanNYA, mohonkanlah Kasih SayangNYA, mohonkanlah BimbinganNYA dan Mohonkanlah PerlindunganNYA!

Maka Insya Allah, semua akibat dari masa lalu kita, yang datang dikemudian hari, akan dapat kita terima dan akan dapat kita hadapi dengan ketenangan dan keyakinan akan pertolonganNYA sebagai sesuatu yang harus terjadi. 
Bukan dari orang itu, bukan dari orang ini, bukan dari diri kita sendiri, tapi dari Allah Azza Wa Jalla.
Bukan karena orang itu, bukan karena orang ini, bukan karena diri kita sendiri, tapi karena Allah Azza Wa Jalla.

Kita yang tidak bisa memastikan keselamatan diri kita sendiri, untuk itu kita memohon KeselamatanNYA.

Kita yang tidak bisa tau apakah Allah senang dengan apa yang telah kita buat, untuk itu kita memohon RidhaNYA.

Kita yang tidak tau seperti apa dan bagaimana akhir hidup kita nanti, untuk itu kita memohon PetunjukNYA. 

Memohon Hadiah Petunjuk di jalan yang lurus dengan segala NikmatNYA, seperti orang-orang yang telah diberi NikmatNYA dari awal sampai akhir zaman. Bukan orang-orang yang ingkar. Bukan pula orang-orang tersesat jalan.
Permohonan yang kita dirikan dan ulangi terus dan terus setiap hari.
Bersamaan dengan ucapan salam keselamatan yang disampaikan saudara-saudara kita, yang setiap hari berulang terus dan terus kita dapatkan juga.

Maafkan bila ada perkataan saya yang tidak berkenan di hati saudara-saudaraku yang telah diciptakanNYA dalam keadaan suci.
Maafkan bila mengusik kemuliaan saudara-saudaraku, yang sungguh saya tak akan mampu memuliakan saudara-saudara sebagaimana Allah telah memuliakan saudaraku sekalian.

Jum'at, 10 Sya'ban 1436H
Abdullah,
Muhammad Ihsan Kahfi Asy-Syatha






Tuesday, December 16, 2014

CERPEN NEGARA-NEGARA-AN (Cerita Dewasa (DW) tapi ga porno)


Tidaaaaak!!!

Teriak Priyo tiba-tiba sambil terhentak duduk bangun dari tidurnya. Nafasnya terengah-engah. Keringatnya banyak, berbulir-bulir menempel mulai dari jidat sampai dadanya yang bidang, seperti yang menempel di botol minuman dari kulkas. Walaupun “view” nya saat itu lebih pas untuk adegan orang habis olahraga atau usai bersetubuh, tapi mimik mukanya yang ketakutan itu membuatnya tidak pas.

Wanito, istri Priyo yang sebelum kejadian tengah berbaring di dadanya itupun sampai terlempar jauh dari ranjang. Setelah dapat menguasai dirinya dari kaget…shock…dan sekilas pertanyaan…kenapa dirinya tiba-tiba ada di lantai. Sekuat tenaga ia mencoba melupakan perih dari daging yang baru saja tumbuh di jidatnya, walau jauh lebih kecil dari ukuran buah-dadanya…tapi cukup menjadi bukti bahwa saat itu volume tubuhnya bertambah sedikit.

Wanito menghampiri Priyo yang masih belum berhasil mengatur nafasnya. Yang matanyapun masih terbuka lebar dan menerawang jauh entah kemana.
“Mamah salah apa Pah? Kenapa Papah lempar Mamah ke lantai begitu?”
“Maaf Mah…Papah ga sengaja.”
“Iya Mamah maafin…”
“Makasih Mah.”..
“Sama-sama.”

“Pah! Kenapa kita gaya ngomongnya kaya sinetron begini? Ini sungguh memalukan Pah! Apa kata keluarga besar kita bila tau selera kita rendah begini…ngikutin sinetron!?” Udah kaya orang kampung aja!!!”

“Jangan begitu Mah! Orang kampung ga bisa disalahin hanya karena mereka tampak memalukan, bodoh dan berselera rendah…ngomong gaya sinetron begitu! Mereka itu hanya korban tivi! Meraka di cekokin! Mereka diracuni media yang dibayar dan di “stir” Paman Sengkuni! Jadi Mamah ga boleh menghina orang kampung begitu!”

“Iya Pah, Mamah salah! Maafin Mamah yah?”
“Iya Mah…Papah maafin.”
“Makasih Pah…”
“Sama-sama.”

“Lho…koq jadi tambah aneh begini pembicaraan kita Pah?”
“Iya yah Mah…Papah juga heran! Ya udah kita ulangi lagi Mah…sana Mamah ulangin lagi, dari tempat Mamah jatoh tadi!”

“OK Pah…”

-MARI SAMA-SAMA KITA ULANG-

Wanito, istri Priyo yang sebelum kejadian tengah berbaring di dadanya itupun sampai terlempar jauh dari ranjang. Setelah dapat menguasai dirinya dari kaget…shock…dan sekilas pertanyaan…kenapa dirinya tiba-tiba ada di lantai. Sekuat tenaga ia mencoba melupakan perih dari daging yang baru saja tumbuh di jidatnya, walau jauh lebih kecil dari ukuran buah-dadanya…tapi cukup menjadi bukti bahwa saat itu volume tubuhnya bertambah sedikit.

Wanito menghampiri Priyo yang masih belum berhasil mengatur nafasnya. Yang matanyapun masih terbuka lebar dan menerawang jauh entah kemana.

“Papah kenapa? Mimpi buruk yah?”
“Iya Mah, buruk sekali….Menakutkan!”

Wanito membelai rambut Priyo yang basah oleh keringat itu, ditatanya dengan jemari lentik nan putih dari tangan kanannya…sambil matanya terus menatap mata Priyo. Mereka berdua saling menatap…seperti saling menggali isi hati pasangannya. Bisu tanpa kata-kata…indah dan menenangkan segenap keguncangan yang baru saja terjadi.

Kesyahduan Priyo Wanito ini…
Bila diolah Hollywood pasti berakhir (pake hir yah) dengan persetubuhan walaupun sebelum tidur tadi udah.
Bila diolah Bollywood pasti berakhir  dengan tarian dan nyanyian…bernyanyi, balas-balasan, sambil muterin ranjang…terus laki-lakinya nempelin idungnya di pipi perempuannya…perempuannya ngelirik malu-malu mau getoh…terus lari-lari kecil minta dikejer.
Bila diolah Koreawood pasti masing-masing langsung cari henpon nya, yang selebar talenan itu, terus saling poto, terus di upload ke efbi.
Bila diolah SinetronMurahanGaBermutuWut pasti mata keduanya langsung ada titik merahnya! Menyala! Terus mulutnya kebuka ngeliatin giginya yang dirapetin sambil menggeram seperti serigala pemburu…sambil ada suara latar yang menggema ga bagus geto…”Kau menyakitikuhh!!!” (pake H dabel).

Tapi untungnya penulis berani untuk tidak bekerjasama dengan perkayuaan wood wood itu!

“Mimpi buruk apa Pah?”

“Serem banget Mah…kita kaya tinggal di luar negri gitu…kota-kotanya rapih…jalan-jalannya rata…selokan-nya, kali-nya bersih…ga ada sampah…airnya jerniiih banget! Orang-orangnya juga rapih rapih, bersih dan sopan sopan banget! Tapi yang herannya disitu ada pak RT juga, ada pak RW juga, ada pak Lurah juga…udah kaya disini!”

(Jeda)
Priyo seperti sedang berusaha mengingat-ingat kembali alur cerita  mimpinya…biji matanya berputar-putar seperti biji mata orang gila. Dan dipertegas dengan…sebentar alisnya yang kusut…sebentar garis-garis di jidatnya yang kusut!

“Terus Pah?....”

“Terus….anehnya…Papah seperti di langit, ngeliat semua nya itu dari atas…tapi keliatan jelas banget semuanya…ga jadi kecil! Pak RT itu keliling lingkungan kekuasaannya, ngeliat, merhatiin, ngontrol…apa yang kurang, ada masalah apa, apa yang perlu diperbaiki…ya jalanan, selokan, lampu jalan, sampah, sampai ke warga-nya…orang-orang…semua orang di daerah kekuasaannya…yang menjadi tanggung-jawabnya untuk di buat RUKUN. Dia benar-benar seperti orang tua dengan anak-anaknya disitu …

Terus pak RW nya juga begitu…merhatiin dan ngurus RT RT dibawah kekuasaannya…gimana cara agar supaya RT RT itu RUKUN….terus begitu semuanya sampai ke Lurah, Camat…..sampai ke Presiden!

Papah jadi takut! Negri apaan ini? Koq horor banget...Negri eh maksud Papah Ngeri!!!”

“Iya ya Pah…horror banget mimpinya! Masa iya ada Negri kaya begitu! Kan normalnya Negri yah harusnya kaya Negri kitalah…Pejabat_yang menjabat amanah…biasa-biasa ajalah…apa yang mau diurus…semua urusan..urusan apapun itu harus ditanya dulu ada uangnya ga? Dan dia harus KUAT ga kepengaruh tangisan, pemandangan susah, jadi bikin celaka orang atau mati, jadi nyusahin orang, dsb dll…harus KUAT milih uang! Itu baru bener…yak kan pah?”

“Iya Mah.”

Priyo tampak sudah mulai tenang…sudah bisa menguasai dirinya kembali dari serangan takut.

“Hmm..untung cuma mimpi ya Mah!......Tapi ada juga lho beberapa orang yang pengen Negri ini kaya di mimpi Papah tadi Mah!”

“Yah biarin aja Pah! Ga bakal kuat dia…anggap aja orang gila!”

“Iya Mah, seandainya dia ngerti tujuan mulia orang-orang seperti kita yah! Mereka kira gampang Papah jadi pejabat begini! Papah harus berani nyuri demi tercapainya tujuan mulia kita…mereka malah bilang Papah korupsi!
Papah banting tulang…kerja keras biar bisa nyaman dan hidup mewah begini! Mestinya mereka kan ngikutin kerja kerasnya Papah! Ini malah ngomongin kemewahan hidup Papah!
Papah tegas membela kebersamaan kita…ga mau diganggu sama paham ini paham itu! Papah malah dibilang kafir! Ga tau deh Papah bingung liat orang-orang seperti itu!”

“Biar aja Pah, mereka kan memperjuangkan yang ga jelas! Liat aja hidupnya pada susah! Mamah setuju sama Papah…yang jelas ajalah…UANG! Yak kan Pah!

“Ya Mah, bener itu Orang mau senang, mau nyaman, mau lancar urusannya, mau bahagia, mau sehat…ya harus pake uang! Persaudaraan yang mereka gadang-gadang itu kan cuma semu! Di hayalan aja! Tetep aja kenyataanya perlu Uang! Mereka ga tau betapa tegasnya Uang…sampai ga bisa dipengaruhi apapun! Mau Ayah – Anak, Ibu – Anak, Suami – Istri, Kakak – Adik, Sahabat, Teman…uang ga pernah perduli!....Terus mereka mau pake paham persaudaraan, sama-sama susah senang, saling bantu, saling perhatian….yaaaa….mana ada jaman sekarang! Itu kan paham-paham kuno!”

“Maklum lah Pah, mereka kan ga nyampe kesitu pikirannya! Yang penting Papah tetep aja sama apa yang Papah perjuangkan. Lagipula ga baik menggangu orang lain…buang waktu ganggu orang  yang milih sabar, miskin, kesulitan dan susah itu! Jangan diganggu dengan bantuan, kasih-sayang, dan lain sebagainya itu! Biar ajalah mereka begitu!”

“Itu pasti Mah, pokoknya tujuan Papah cuma satu…Papah dan kawan-kawan seperjuangan punya tujuan mulya…menghapus kemiskinan dari negri ini! Gimanapun itu caranya! Pokoknya dihapus! Mau ditangkep kek, ditindas kek, dibuat tambah susah keq…semuanya akan kita pake…keputusan-keputusan, Siaran tivi, radio, style, trend, pelajaran sekolah dan kampus…semuanya! Mol kita banyakin, Pasar-pasar modern kita sebar! Gaya-gaya keren kita cekokin! Enaknya hidup mewah kita pamerin! Semuanya kita pake biar kemiskinan itu jera! Lama-lama juga kehapus sendiri! Musnah! Saat itu tiba…maka tibalah giliran negri menguasai dunia!”

“Wuihhh! Papah hebat sekali! Mulya sekali perjuangan Papah! Aku bangga jadi istrimu Pah!”

Mereka berdua saling menatap…seperti saling menggali isi hati pasangannya. Bisu tanpa kata-kata…indah dan menenangkan segenap keguncangan yang sudah agak lama terjadi.

Kesyahduan Priyo Wanito ini…
Bila diolah Hollywood pasti berakhir (pake hir yah) dengan persetubuhan walaupun sebelum tidur tadi udah.
Bila diolah Bollywood pasti berakhir  dengan tarian dan nyanyian…bernyanyi, balas-balasan, sambil muterin ranjang…terus laki-lakinya nempelin idungnya di pipi perempuannya…perempuannya ngelirik malu-malu mau getoh…terus lari-lari kecil minta dikejer.
Bila diolah Koreawood pasti masing-masing langsung cari henpon nya, yang selebar talenan itu, terus saling poto, terus di upload ke efbi.
Bila diolah SinetronMurahanGaBermutuWut pasti mata keduanya langsung ada titik merahnya! Menyala! Terus mulutnya kebuka ngeliatin giginya yang dirapetin sambil menggeram seperti serigala pemburu…sambil ada suara latar yang menggema ga bagus geto…”Kau menyakitikuhh!!!” (pake H dabel).

Tapi untungnya penulis berani untuk mengulang adegan ini, meng-copy-paste tulisan sendiri. Untuk membuktikan ini bukan mutlak milik perkayuaan wood wood itu dengan segala cerita bersambung dan berulangnya!

“Oya Pah, ibuku makin kritis di rumah sakit! Katanya rumah, tanah dan hartanya sudah habis buat pengobatannya itu! Mamah minta uang Papah yah buat bantu ibuku.”

“Kuatlah Mah! Kan Mamah sendiri yang barusan bilang…jangan ganggu kesulitan orang! Mamah harus kuat…Ibu Mamah kan orang juga! Uang…Papah banyak! Tapi Papah sudah atur semua nya untuk ini dan itu! Papah juga sedang kuat untuk setegas uang Mah!”

“Baiklah Pah. Maafin Mamah kepancing suasana!”
“Ga apa-apa Mah…itu proses!”
“Makasih yah Pah…”
“Iya Mah, Papah makasih juga sama Mamah.”
“Maafin Mamah yah Pah…”
“Iya Mah…Papah maafin…”
“Makasih Pah.”
“Sama-sama Mah”



With Love
-Kaan Kahfi- 

(NB: Terimakasih atas pesan (e-mail, fb) pembaca sekalian, maafkan saya yang tidak membuka kotak komentar di setiap tulisan saya, karena saya harus mematuhi perintah Baginda Nabi Shalallaahu'alaihiwasallam...menghindari debat dan pujian. Mari sama-sama kita berterimakasih pada Allaah ta'aalaa dan MemujiNya. Dalam segala suasana...segala Pujian hanyalah bagi Allaah ta'aalaa...Tuhan Semesta Alam)

TULISAN LAINNYA:
SAAT GUE MARAHIN AKU
Kisah Raja yang dihianati Kekasih-Kekasihnya
Motivasi Sukses Sepanjang Masa (2)
Motivasi Sukses Sepanjang Masa
UANGKRASI
tulisku dari kisahnya
Sir Erwhe
STOP KEGANASAN!!! (ganas bukan nanas)
Teman apa Teman?
Kita Bisa karena Kita Mau
yang paling penting
Klakson 29 Juta
hati yang gempa
Usia Dewa
mbah Surip dan aku
Kisah Cengkeh
Jangan nikah sama orang Stress!
Kurang Satu Jurus
Bebas seX
Tau Mau
Aku
tenggelam

 
ans!!