Thursday, August 27, 2015

JEBAKAN INDAH


Kau dihadapkan pada tawaran yang tak bisa kau tolak!
Meninggalkan semua yang DIA tidak suka!
Melakukan semua yang DIA suka!

Meletakkan harapan akan hari esok nan indah
atau menerima hari kemarin
atau indahnya hari ini
hanya akan menjadi jebakan indah yang baru
yang terus mem-baru-kan bentuknya
lalu menjadi kesibukan baru
menjadi  rupa hidup, wajah hidupmu
hingga menjadi begitulah dirimu
dan disitulah dirimu!

Terjebak dalam Jebakan Indah!

Ya indah!
Karena melewati itu
hanya dengan itu
kau bisa menjadikannya usang!

Duhai! Usang!
Begitu saja rupamu!
Begitu saja gayamu!
Kamu lagi yang ada dibalik ini semua!
Bersembunyi dalam nama baru!
Tersembunyi dalam wajah baru!

Berkutat pada makna tawaran
mendalaminya dengan keterbatasan aku
hanya akan menyimpul keterbatasan!
Kau akan selalu dihadapkan pada ketidakterbatasan
dengan keterbatasan dirimu
bersama keterbatasan arti yang berhasil  kau resapi!
Lalu menjadi siapa dirimu?
Dan disitulah dirimu!

Terjebak dalam Jebakan Indah!

Ya indah!
Karena melewati  itu
hanya dengan itu
kau bisa menjadikannya usang!

Duhai! Usang!
Begitu saja rupamu!
Begitu saja gayamu!
Kamu lagi yang ada dibalik ini semua!
Bersembunyi dalam nama baru!
Tersembunyi dalam wajah baru!

Pencapaianmu adalah pencapaianmu
Tak ada pengulangan dalam kesempurnaan
Tak ada keserupaan dalam ke-Maha-an

Setiap eksistensi selalu bersama keunikannya!
Dibuat seragam pun, tetap beragam!
Di daur-ulang pun, tetap beragam-ragam!
Unik dan lebur dalam eksistensi ke-AgunganNYA!

Hadapilah kepedihan itu
yang menyakitkan hatimu itu!
Terimalah!
Tidak terimakah kau bahwa itu semua bagian dirimu?
Kau tak akan berhasil menjadikannya  bukan milikmu!
Upayamu untuk itu hanyalah membangun benteng persembunyianmu saja!
Mengurung kuat dirimu dalam keterbatasanmu!
Dan tentang kepedihanmu
kau pun tak akan bisa bebas darinya!
Bersama kepedihanmu itulah kau harapkan kebahagianmu!
Tanpa pertukaran!
Tanpa dirimu!
Hanya ada DIA!
Yang kau sibuk dan asik denganNYA!

Usahlah kau perdulikan semua hinaan!
Usahlah kau perdulikan semua anggapan!
Usahlah kau perdulikan semua prasangka!
Usahlah kau perdulikan semua sindiran!
Semuanya!
Hingga kau tak terbiasa
hingga kau tak bisa
hingga kau lupa
menggunakannya lagi
pada selain dirimu!

Semuanya!
Hingga kau tak terbiasa
hingga kau tak bisa
hingga kau lupa
menggunakannya lagi
juga pada dirimu!
Tanda hanya ada DIA!
Yang kau sibuk
yang kau asik denganNYA!

Lalu jalan gelap itu menjadi terang
Lalu petunjuk jalan itu jelas terlihat
Lalu kegembiraan itu kau rasakan
Kau senang denganNYA
dengan senangNYA padamu

Senang karena kau temui DIA

DIA yang kau cari adalah
DIA Yang selama ini paling dekat denganmu

DIA yang kau minta adalah
DIA Yang selalu senang mengasihi dirimu

DIA tempatmu mengadu adalah
DIA Yang pertama tau dan sangat tau kedukaanmu

DIA yang kau mintakan kekuatan dan kesabaran bagi dirimu adalah
DIA Yang selalu kuat dan selalu sabar menanti dirimu pulang
Kembali padaNYA

Kau temui ketidak-terdugaan
Karena kau keluar dari keterdugaan
Dan menjadi
t a k   t e r d u g a

Kau Sadar dari ketidaksadaranmu
Kau Bangun dari Tidur Panjangmu
Kau Tergugah dari Mimpi-Mimpimu

Kau Hidup

Hidup dengan
Harapanmu
Anggapanmu
Penilaianmu
Pengertianmu
Pengetahuanmu
Kepahamanmu
Pencarianmu
Iman-mu
Tunduk-mu
Dosa-mu
bahkan Pelarianmu
Persembunyianmu
adalah
dalam
KETERBATASAN
dirimu
dihadapan
YANG TIDAK TERBATAS

Kau dihadapkan pada tawaran yang tak bisa kau tolak!
Yakni  meninggalkan semua yang Dia tidak suka
dan melakukan semua yang Dia suka!





Saturday, August 22, 2015

PERBAIKAN DIRI

Salamun'alaikum

Saudaraku, bisa jadi kita kesal karena sesuatu peristiwa, baik yang menimpa diri kita sendiri atau yang menimpa orang lain. Baik yang benar-benar terang kita ketahui maupun yang masih samar seperti kata orang, berita atau informasi. Lalu ilmu setiap kita menjadi pagar penghalang dari jatuhnya kita pada berbuat kesalahan dan dosa akibat kesal itu tadi.

Seseorang bisa saja kesal lalu marah lalu mengumpat, memaki, menghina sampai memukul! Menyakiti orang lain. Lalu dia dibuat merasakan hal yang sama...disakiti orang lain. Lalu dia mengambil pelajaran dan mulai melatih dirinya untuk tidak menyakiti orang lain, walaupun itu sehalus menyakiti dengan kata-kata.
Dia harus temui kondisi itu! Pelajaran itu! Sampai dia bisa menjaga lisannya...tanda dia menjaga hatinya. Bila dia telah terbiasa begitu, itulah tanda bahwa dia diselamatkan oleh Allah. Maka akhirnya ia akan menjadi pribadi yang bisa menghargai sesuatu sehalus perkataan...yang terdengar (tanda ia ada), namun tak terlihat, tidak bisa diraba, tak berbau dan tak terkecap bahkan oleh lidahnya sendiri. Jadilah dia seseorang yang menghargai persaksiannya...syahadatnya.

Seseorang juga bisa menahan kesalnya. Dia tidak marah lalu mengumpat, memaki, menghina sampai memukul. Dia bisa mengatasi kesalnya. Dia menguasai dirinya. Tapi dia mengharuskan orang lain menjadi seperti dirinya atau mengerti bagaimana dirinya itu. Dan itu menjadi semacam standar operasi bagi dirinya dalam berhubungan dengan orang lain. Ini juga bahaya! Bahaya bagi dirinya karena dirinya bisa untuk tidak kesal tapi disaat yang sama dia juga bisa membuat orang lain kesal. Dia bisa menghargai persaksiannya tapi tidak bisa menghargai persaksian orang lain. Secara halus, samar dan tersembunyi dia menganggap dirinyalah benar, lebih benar atau paling benar.

Lalu bagaimana sebaiknya kita? Bila kesal tidak baik, menahan kesal pun tidak baik!

Disinilah kita seharusnya tunduk. Saat keadaan telah menundukkan kita! Dan suka tidak-suka pun kita akan dipaksa untuk tunduk! Harus ada Yang Maha Satu yang menundukkan semuanya! Yang menjadi satu titik fokus, ujung dari segala ujung, titik tuju dari semua yang ditundukkan...yakni Allah Subhanahuwata'ala...ALLAH...Rabb Yang Maha Suci. Yang Suci dari segala kesalahan, kelemahan dan kekurangan.
Ya...suka tidak suka kita akan selalu ditundukkan!
Dipaksa untuk tunduk!
Sebut saja...kegagalan, ketidak berdayaan, keterbatasan! Atau menjadi tua dan rapuh! Atau apa sajalah...
sampai itu Kematian.
Agar kita sadar bahwa ada Tuhan! Ada Rabb! Yakni Allah Yang Maha Kuasa!
Dan agar kita sadar bahwa kita hanyalah hambaNYA yang sangat lemah!
Bahkan kebenaran yang kita ketahui pun tetap menurut kelemahan kita sebagai hamba! Dan kita tak akan tau kebenaran sejati yang ada disisiNYA.
Hingga dikatakan! Ditantang! "Bila kamu memang benar maka tentukanlah kematianmu!"
Tentukanlah tanggal dan waktunya, tentukan juga kondisinya...bagaimana matinya. Dan harus lengkap...tentukan juga dikubur dimana, tentukan juga Surga Neraka nya! Bisa?
T I D A K   A K A N   A D A   Y A N G   B I S A !!!
Bahkan bersatunya semua yang tidak mau tunduk pada Allah! Baik yang di bumi, baik yang dilangit! Yang tampak, yang tersembunyi...semuah nya (pake H)...tetap saja makhluk! Bukan Tuhan! Bukan Rabb! Dan tak akan bisa merubah ketentuan bahwa yang diciptakan harus tunduk pada penciptanya!

Makhluk harus tunduk pada Khaliq...
...ALLAH...
Pencipta dan Penguasa segala yang ada di langit dan di bumi!

Ibarat budak! Budak hanya bisa patuh, tunduk, mengikuti apa kata tuan-nya! Karena sang budak itu tau apa yang akan dia peroleh dari tuannya bila dirinya patuh. Dia tau nikmat-nikmat yang ada disisi tuannya, dan dia mengharapkan itu. Walau ada juga budak yang mencintai tuannya. Dia tidak butuh imbalan dari tuannya. Yang dia inginkan hanyalah agar tuannya senang, Ridha!
Lalu akal manusia modern lancang mengatakan bahwa Islam, yang satu-satu nya agama disisi Allah itu "FAILED" karena mendukung perbudakan! Padahal kebudayaan modern ini pun tidak lepas sama sekali dari perbudakan! Malah lebih parah, karena perbudakan tampil dengan nama dan wajah yang bagus-bagus dan indah-indah...perserikatan inilah, itulah, persatuan inilah, itulah, perkumpulan penolong ini dan itu...DLL..DSB...tapi sejatinya...prakteknya...tetaplah perbudakan! Disaat Islam mengganjar orang yang berbuat baik dengan "Seperti memerdekakan sekian puluh, sekian ratus dan sekian ribu budak!".....memuliakan orang yang memerdekakan budaknya.

Lancang! Tidak adab! Awalnya dianggap tidak apa-apa, rapopo! Akhirnya menjadi biasa! Akhirnya menjadi terbiasa! Akhirnya susah untuk tunduk! Semakin menjadi penyakit yang ada dihatinya! Merasa benar! Merasa tau! Merasa berhak! Merasa bisa! Merasa boleh Complaint! Gpp! Rapopo! Sampai-sampai apa yang diperintahkan Rabb nya juga dibuat begitu...dijadikan perdebatan! Dijadikan alat! Dijadikan tameng! Dijadikan bahan mainan pikirannya dan kedudukannya!
Menerima kebenaran dengan bermain-main!

Tidak saudaraku. Siapa makhluk bisa paham Penciptanya? Seorang yang tunduk pada Rabb-nya tidak akan lancang mengatakan "Cukup memohon dimasukkan ke dalam SurgaNYA (tak usah minta bebas dari NerakaNYA) karena masuk Surga berarti tidak masuk Neraka!" tapi dia akan tetap memohon untuk dimasukkan ke dalam SurgaNYA dan memohon untuk tidak masukkan ke dalam NerakaNYA. Karena memang begitu perintahnya.

Bukanlah Allah itu menjadikan orang kaya untuk membantu orang miskin! Tapi Allah menjadikan orang miskin agar yang dijadikan kaya bisa menjalankan ketaatannya pada Allah sebagai orang kaya. Begitu juga perbudakan! Dan begitu juga semua yang musuh-musuh Allah lihat itu sebagai FAILED dari perintah-perintahNYA itu!

Bahkan Allah ciptakan Penglihatan dan Pendengaran agar kita bisa diuji!

Saudaraku, camkanlah dalam hati kita, dalam diri kita, dalam kesadaran kita...sekuat-kuatnya...bahwa Allah Maha Penyayang! Maha Belas Kasih! Maka tidak mungkin ada perbuatanNYA, perintahNYA yang salah!
Lalai, luput, lupa adalah bagian kita...hamba! Bukan bagian Allah...Pencipta. Dan Allah pun Maha Pengampun dan Maha Pemaaf atas segenap kelalaian, dosa dan kesalahan kita.
ALLAHUAKBAR! SUBHANALLAH!!! Begitu sempurnanya ALLAH! Sudahlah Kita diajarkan untuk tau! Kita di-didik untuk terbiasa! Disiapkan tempat latihannya...dunia ini! Diberi petunjuk pula! Dikasih contohnya pula! Lalu masih dimaafkan dan diampuni juga bila bersalah dan mengakui kesalahannya!

Maka Menyerahlah pada Allah...berserah (muslim)!
Ber-taqwa-lah!
Tunduklah...Tawadhu!
Dengan terus memperbaiki diri...kerja yang harus selalu kita lakukan sampai tiba kematian kita.
Dengan senang dan tenang menjalankan perintahnya,
Dengan menerima segala ketentuannya, baik dan buruk pun ketentuan itu!
Dengan sabar terhadap ujianNYA dan Syukur terhadap nikmat-nikmatNYA.
Itulah tanda bahwa dia sedang dibimbing oleh RABBnya!
Dibimbing oleh ALLAH menuju DIRINYA!
Karena semua pasti kembali padaNYA.

Dalam ketundukan hanya ada yang tunduk dan Yang Menundukkan. Tidak ada TAPI, tidak ada ALASAN!

"Ga ada tuh..Tapi akiu kan maunya beginih!" 

"Lho! Emang Allah ga tau!"

"Atau...Akiu kan ingin bahagia juga di dunia ini."

"Lho! Apalagi Allah! Dia paling pengen elu bahagia neng! Emang buat siapa semua kebaikan Allah itu? Buat Allah? Allah Maha Kaya neng! Ga butuh segala kebaikan kita, pujian kita, amalan kita...emang Allah minta disumbang apa?! Harus ditolong apa? Harus dipuji gitu supaya tetep terpuji! Mau gimana juga keadaan kita, baik kek, buruk kek, sendirian kek, rame-rame kek...Allah tetap Terpuji neng!"

"Hiks hiks hiks."

"Ga usah nangis neng, lebay itu namanya! Alay! Allah itu nyuruh ini itu, begini begitu buat kebaikan kita doang! Tapi kitanya aja kebangetan dableg (pake G)! Ga usah dipikir-pikir neng, ga usah disedih-sedihin begituh...jalanin aja! Ikutin ajah! Begituan mah jadi kelamaan neng! Iya kalo ga keburu game-over! Masa ia kita nyuruh Allah, nanya-nanya Allah! Allah mah ga ditanya neng...kita nih yang pasti ditanya mah!"

Dalam Ketundukan hanya ada Hamba dan Rabb! Maka bila ada kekecewaan, atau kegagalan, atau hal-hal yang luput, atau kesalahan, atau segala masalah yang kita anggap masalah...pastilah ada kebaikan dibalik itu semua, karena Allah tidak akan pernah mendzalimi hambaNYA.
Namun bila kita tetap bandel ingin melezatkan akal, rasa dan lidah untuk mencari siapa yang salah...tidak menerima pintu-pintu surga itu (ujian)...maka salahkanlah diri kita! Karena dalam Ketundukan hanya ada diri kita dan Allah saja! Dan Allah tidak mungkin salah!

Semoga uraian ini bermanfaat. Dan uraian ini hanyalah setitik bayangan debu dari samudra pelajaranNYA...samudra Kasih SayangNYA...Samudra CintaNYA.
Hanya Allah lah Yang Sebenar-benarnya Tau, dan itu bagian dari keterpujianNYA!
Dan Hanya Allah lah Yang Tau Bagaimana Memuji DiriNYA!
Tak akan mungkin jasad yang terbatas ini mengukur Zat yang tidak terbatas, lalu mengukur Ketidak-terbatasanNYA dengan keterbatasan itu.

Hanya Allah lah Yang Paling Segera menolong kita, karena Allah paling dekat dengan kita dari pada kita dengan diri kita sendiri! Dan semoga Allah menolong dan menyelamatkan kita semua. Aamiin

Hanya Allah lah Yang Paling Bisa diandalkan, kerana Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (semua "sesuatu" yang kita tau...sebutkanlah! Apapun itu! Adalah dibawah kekuasaanNYA)!
Dan semoga Allah jadikan kita hamba-hambaNYA yang taat padaNYA, dengan ketaatan  yang DIA Senangi...Ridha. Aamiin

Hanya Allah lah Yang Paling Sayang pada diri kita daripada kita pada diri kita sendiri! Karena tak ada yang tersembunyi dihadapan Allah! Dan tak akan bisa kita memuliakan diri kita, tak akan bisa kita memuliakan orang lain, sebagaimana Allah memuliakan hambaNYA...kita atau orang lain itu! Manusia adalah rahasiaNYA...maka kita tak akan bisa dan tak akan mungkin untuk mutlak dan benar-benar tau rahasia diri kita sendiri...karena kita sangat-sangat terbatas.
Tapi tidak demikian dengan ALLAH!
Dan semoga Allah Mengampuni dan Memaafkan kita semua.
Aamiin

Dan tak akan sampai kepada Allah semua yang kita perbuat...tak akan Allah terima segala kebaikan, doa...amal-amal...sebelum kita menganggap, sebelum kita mengikuti dengan hati dan perbuatan, sebelum kita mencintai melebihi cinta kita pada anak, istri, orang tua dan diri kita sendiri...Baginda Nabi Muhammad Shalallahu'alaihiwasallam! Hamba TerbaikNYA! Pemimpin Para Nabi dan RasulNYA! Yang diberikan kitab Al-Qur'an lalu mengajarkannya dan memberi contoh! Menjadi contoh bagi kita untuk menghamba pada Allah, untuk tunduk padaNYA. Menjadi Suri Tauladan dan menjadi Penerang jalan gelap bagi kita semua...umatNya.
Semoga Allah menaruh belas-kasih pada kita hamba-hambaNYA yang penuh salah dan penuh dosa ini. Hamba yang pasti bersalah dan berdosa ini. Karena hanya dengan belas-kasihNYA jualah kita bisa Selamat di dunia dan di akhirat. Hanya dengan RahmatNYA! Bukan karena amal-amal kita.

"Kita ga bisa ke-pede-an ngaku-ngaku sudah diampuni! Itu HakNYA Tuhan! Rabb!!! Emang kita Tuhan apa?"

Kita hanya bisa meletakkan harapan dan doa kita padaNYA diantara Takut dan Harap! Between Hope and Fear! Takut ditolak dan Berharap diterima! Begitulah penghambaan! Itulah Tunduk!
Disitulah indahnya "Semoga."
Disitulah syahdunya "InsyaAllah." (Oya, untuk saudara-saudaraku yang kebetulan punya anak alay, yang suka ributin INSYA dengan INSHA, yang bikin ketauan ga pernah ngaji nya, tolong diajarinlah, jangan sampai kebodohannya itu dijadikan bahan adonan kue perpecahan oleh musuh-musuh Allah! Suruh cari tau, belajar, soal Translasi aja kalo emang males ngaji! Dan bilangin juga jangan asal copas tulisan, foto atau pendapat aja! Malu-maluin bapaknya ajah!!!)

Dan sejarah memberikan pelajaran bagi kita, bahwa mereka...orang-orang yang di Rahmati Allah adalah orang-orang yang paling taat, paling kuat ibadahnya! Yang mereka tidak siaran (di TV di Medsos misalnya), tidak pamer, tidak meng-informasi-kan, tidak meng-konfirmasi-kan bahwa dirinya adalah orang taqwa! Walaupun demikian luar-biasanya amal-amal mereka.

Tidak Merasa Telah. Ga ngerasa udah. Sabar menjalankan ketaatan.

Dilakukannya yang terbaik tanpa merasa telah melakukan yang terbaik! Karena dia tau, dia sadar, dia tunduk...bahwa yang terbaik hanyalah DIA...HUU!!!

AllahummaSholli waSallim waBaariq 'ala Sayyidina Muhammad (Shalallahu'alaihiwasallam) wa'ala aalihi, waShabihi, waSaadati, waUmmati ajma'in.

Wallahul Muwafiq ila aqwamith thoriq
WasSalamu'alaikum waRahmatullah waBaraqaatuh




Monday, August 17, 2015

70 Tahun Negriku


Salamun'alaikum

Saudaraku, hari ini 17 Agustus 2015, genap 70 tahun usia Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tempat kita lahir dan dibesarkan...tanah kita, kampung kita, rumah kita, tempat kita hidup di dunia ini.

Alhamdulillah, innalhamdalillah...

Mari kita berterimakasih pada Allah Subhanahuwata'ala atas segala yang telah Allah berikan pada kita selama kita hidup di negri ini. Mari juga kita memohon padaNYA agar negri ini menjadi negri yang adil dan makmur, damai sentausa, penuh keselamatan dalam perlindunganNYA.

Seorang yang lahir pada tanggal 17 Agustus 1945, lahir setelah detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Negara Republik Indonesia, bila masih hidup, maka pada hari ini orang tersebut genap berusia Tujuh Puluh tahun. Misalnya...misalnya orang itu memiliki anak pertamanya pada usia 20 tahun, dan anak pertamanya itu juga memiliki anak pertama pada usia 20 tahun dan seperti itu seterusnya, dan hidup semua. Maka bapak atau ibu yang berusia 70 tahun tersebut saat ini memiliki anak tertua berusia 50 tahun, cucu tertua berusia 30 tahun, cicit tertua berusia 10 tahun. Sudah ada Empat Generasi...Generasi pertama The Seventy, Generasi ke-dua The Fifty, Generasi ke-tiga The Thirty, Generasi ke-empat The Ten. Lalu mereka membuat grup band dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Ke empat generasi itu yang hidup di zaman ini, tau bagaimana "hebatnya", bagaimana "majunya", kebudayaan manusia saat ini, mungkin mengikutinya, malah mungkin memujanya. Tapi setiap generasi tidak tau bagaimana kebudayaan generasi sebelumnya (ya bisa jadi juga dia tau, tapi hanya tau sebatas cerita saja, tetap tidak dialaminya!).

Kira-kira bagaimanakah pendapat kakek 70 tahun itu tentang keadaan peradaban manusia saat ini, tentang kemajuan peradabannya bila dibandingkan dengan "zamannya"? Misalkan dia menganggap "tidak bagus"! Apakah generasi setelahnya bisa terima? Atau bisa paham?

Lalu bagaimana dengan TUJUH PULUH TAHUN nya bangsa besar ini? Yang beragam suku, adat-istiadat, agama dan kepercayaan nya ini? Yang hidup dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia ini? Menyatukan diri dan dan merelakan diri dirawat dan diatur oleh Negara ini?

Ada yang bilang belum merdeka? Ada! Saya liat banyak yang tulis itu.

Ada yang bilang kurang ini, kurang itu, mestinya begini, mestinya begitu...mulai dari yang teriak-teriak saja sampai yang berbuat, beraksi!

Lalu ada yang beraksi negatif, yang lebih sering ditayangkan di media. Disebarluaskan!
"Ngajarin ga bener...Membuka aib yang telah Allah tutup! Dengan dalih informasi tapi sambil mengharapkan untung (uang)! Sementara informasi penting tentang Sejatinya Manusia, tentang Allah...Rabb-nya, tentang apa yang DIA Perintah, MauNYA DIA, SenangNYA DIA hanya jadi ceramah artis berbayar yang garing, membosankan dan entah buat siapa...tak jejak bumi!"

Ada juga yang beraksi positif, sesuai kemampuannya ikut membangun Negri ini...seperti Mak Eroh misalnya...ibu-ibu yang menggali tebing membuat saluran air untuk warganya, atau Bang Idin, atau Abdul Rojak...bisa baca disini.

Tapi diatas itu semua...sudahkah kita bersyukur pada Allah ta'ala Raja Dari Segala Raja, Pencipta sekaligus Pemilik sekaligus Pengatur sekaligus Pemelihara Alam Semesta ini? Yang semua Keagungan Nama-Nama dan SifatNYA itu tanpa cacat dan cela!

Sudahkah kita memohon padaNYA untuk kebaikan Negri kita ini?

Ragukah kita pada PertolonganNYA?

Atau jangan-jangan masih terselip "tapi kan..." "tapi kan..." di doa kita? Atau malah jangan-jangan menganggap ini azab atau sial karena begini-begitu seolah-olah Tuhan yang kasih tau!

Tidak saudaraku.

Ini semua jelas panggilan tak langsung dari Allah untuk kita semua agar segera dan sungguh-sungguh "kembali" padaNYA! Meng-Agung-kanNYA! Tunduk padaNYA!

-------bersambung-------




Tuesday, August 4, 2015

MULIAKANLAH AYAH DAN IBU


Salamun ‘alaikum

Saudaraku, mari kita muliakan orang tua kita, mari kita memohon pada Allah untuk bisa memuliakan orang tua kita dengan tulus dan benar seperti yang Allah ridha. Karena kita tak akan mungkin bisa membalas kebaikan orang tua kita sekaya-raya apapun kita, sehebat apapun kedudukan kita dalam kehidupan dunia ini.

Tak beriman pada Allah pun mereka, kita tetap diperintahkan untuk mengucapkan kepada mereka perkataan yang mulia dan merendahkan diri dengan penuh rasa sayang.

Saudaraku, sebaik apapun amal ibadah kita, sebagus apapun kehidupan dunia kita, sebagus apapun anak dan pasangan kita, semua itu tidak ada artinya bila kita telah menyakiti hati orang tua kita! Walaupun itu goresan kecil, walaupun itu setitik saja, walaupun itu sedikit saja dan kita tidak memohon ampunannya, kita tidak memohon maafnya. Itulah ke sia-sia-an!
Apalagi bila sampai orang tua kita melaknat kita, sampai mereka mengangkat tangan dan berdoa memohon ke- tidak-baik-an pun bagi kita…yang pasti dikabulkan oleh Allah! Hancurlah kita!
Bahkan sesering apapun kita bersyukur pada Allah…tak akan diterima syukur kita itu oleh Allah sebelum kita bersyukur pada orang tua kita.

Saudaraku, salah satu tanda dekatnya hari kiamat adalah ibu melahirkan majikannya. Anaknya jadi majikan ibunya… ngebos, nyuruh-nyuruh, ga mau disuruh, berani ngambek sama ibunya, berani memperlihatkan muka masam pada ibunya, malah ada yang berani cari gara-gara…sengaja biar bisa ribut seperti di sinetron sama ibunya! Misalnya, contoh kasus, seorang ibu meminta pada anak perempuannya yang telah berumah tangga, yang belum mampu beli rumah dan sementara numpang dirumahnya: “Nak tolong itu boneka anakmu jangan berantakan dilantai begitu!” Lalu si anak tak menggubris nya sama sekali! Akhirnya sang ibu bersabar dan merapihkan boneka bekas main cucunya itu…lalu si anak kurang ajar ini tersinggung…dia letakkan lagi itu dilantai, lalu sang ibu tetap bersabar dan merapihkannya lagi…terus dan terus sampai sepuluh kali lebih! Si anak durhaka ini sengaja ingin membuat kesal ibunya! Di hatinya tidak terima urusan sekecil boneka saja harus diatur-atur! Ga modern! Ga Maju! Menganggu privasi! Begitu umpatnya dalam hati!
Lalu bagaimana ia bisa menjalankan kemauan ibunya bila misalnya sang ibu ingin boneka itu di buang atau di penggal kepalanya! Untung saja ibunya sabar. Tapi si anak? Bagus bila anak itu memiliki kelembutan hati, lalu hidayah bisa masuk ke dalam hatinya...lalu ia menyesal dan memohon ampunan, memohon maaf pada ibunya…insyaAllah ia akan temui ibunya mengampuni dan memaafkannya…karena begitulah kasih ibu...tapi bila tidak?

TAPI BILA TIDAK? Bila si anak berhati keras! Dan tak merasa bersalah sedikitpun? Maka tak akan ada keuntungan baginya! Malah kecelakaan, kehancuran, azab menantinya di dunia ini dan di akhirat kelak! Karena dia telah durhaka pada ibunya! Dia telah menggores luka dihati ibunya! Telah melakukan dosa besar yang terbesar!  Dosa besar yang terbesar setelah menduakan Allah yakni durhaka pada orang tuanya!

Tak usahlah kita membandingkannya dengan para Nabi, yang jelas-jelas diselamatkan…dijaga oleh Allah dari melakukan dosa dan kesalahan!
Atau dengan masyarakat jahiliah yang menyembah berhala sebelum kedatangan Rasulullah Shalallahu’alaihiwasallam…masyarakat yang menjunjung tinggi kejujuran, membela dan menghormati saudara, masyarakat yang cerdas dan jauh dari kerusakan filsafat, masyarakat yang begitu memuliakan orang tuanya…yang bangga hingga tau nama bapak, kakek sampai leluhur-leluhurnya! Hingga siap menerima Islam, satu-satunya agama yang Allah ridha, yang Allah turunkan melalui hamba terbaikNYA Baginda Rasulullah Muhammad Shalallahu’alaihiwasallam, hingga mereka menjadi yang terbaik dari umat terbaik ini, menjadi contoh terbaik, menjadi  suri tauladan terbaik bagi generasi selanjutnya hingga akhir zaman...
Tak usahlah dibandingkan dengan mereka!
Bandingkan dengan binatang sajalah…

Pantaskah kita bersikap perhitungan pada orang tua kita?
Pantaskah kita menunjukkan bahwa kita lebih hebat dan lebih pintar pada mereka?

Andaikata pun kita mampu mengaudit seluruh biaya pengeluaran mereka dalam membesarkan kita…mulai dari saat kita dalam kandungan, dilahirkan dan dibesarkan sampai kita sebesar ini. Dengan ahli audit terhebat di dunia saat ini misalnya, yang menguasai ilmu audit terhebat di dunia, yang juga menguasai ilmu meneropong masa lalu, lalu darinya kita bisa tau berapa jumlah total seluruh biaya pengeluaran orang tua kita dalam membesarkan kita itu dan kita mampu membayarnya…tetap saja…kita lakukan itu untuk membayar, untuk angkuh menunjukkan bisa membayar atau bodoh menganggap membalas itu dengan uang…seolah-olah semua bisa dihargai dengan uang! Sedangkan mereka…orang tua kita… melakukannya dengan penuh pengorbanan dan dengan penuh harap…harapan selamatnya kita, sehatnya kita, bisa besar dan bisa bahagia kelak! Dan ini TIDAK TERBAYAR!
Apalagi pada ketentuan Allah? Bahwa kita dilahirkan ke dunia ini lewat mereka! Kita tak bisa rubah itu…apalagi menggugatnya! Tak terima nya kita pada ketentuan Allah itu sedikit saja..maka sudah menjelaskan betapa bermasalahnya ke-iman-an kita pada Allah!

"Dan Kami perintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada dua orang ibu-bapaknya,
ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.

Bersyukurlah kepadaKU dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKU-lah kembalimu.
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan AKU sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya,

dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKU, kemudian hanya kepadaKU-lah kembalimu, maka KUberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."
(Al-Qur'aanul Kariim, Surah Lukman, ayat 14-15)

"Dan Robb-mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. 

Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah"
dan janganlah kamu membentak mereka,

dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan,

dan ucapkanlah:
"Wahai Robb-ku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil"."
(Al-Qur'aanul Kariim, Surah Al-'Israa', ayat 23-24)


Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,
“Ada tiga ayat yang diturunkan dan dikaitkan dengan tiga hal, tidak diterima salah satunya jika tidak dengan yang dikaitkannya:
Pertama, firman Allah Ta’ala...Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasulullah Muhammad Shalallahu'alaihiwasallam...maka barangsiapa taat kepada Allah namun tidak taat kepadaRasulullah Muhammad Shalallahu'alaihiwasallam, ketaatannya tidak diterima.
Kedua, firman Allah Ta’ala...Dan dirikanlah shalat serta tunaikan zakat...maka barangsiapa melakukan shalat namun tidak mengeluarkan zakat, tidaklah diterima.
Ketiga, firman Allah Ta’ala...Agar kamu bersyukur kepada-KU dan kepada kedua orang tuamu...maka barangsiapa bersyukur kepada Allah namun tidak bersyukur kepada kedua orang tua, tidak diterima syukurnya.

Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda:
 "Keridhaan Allah ada di dalam keridhaan kedua orang tua dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan kedua orang tua“.
(HR. Imam Tarmidzi)

 “Maukah aku beritahu kalian tentang dosa besar yang paling besar? Yakni menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.”
 (HR. Bukhari Muslim)

“Tidak akan masuk surga orang yang durhaka (kepada kedua orang tua), orang yang menyebut-nyebut kebaikannya, dan yang kecanduan khamr.”
(HR. Bukhari Muslim)

Semua dosa ditunda siksanya oleh Allah sekehendak-NYA hingga hari Kiamat kecuali dosa Durhaka kepada orang tua. Sesungguhnya dosa durhaka disegerakan siksanya bagi pelakunya.
(HR. Hakim)

“Allah melaknat kepada orang yang durhaka kepada orang tuanya”

"Ada tiga doa yang terkabulkan dan tidak ada keraguan padanya:
Doa orang yang didzalimi,
Doa orang yang bepergian,
dan doa tidak baik orang tua terhadap anaknya.”
(HR. Imam Tarmidzi, Abu Dawud, dan Thabrani).

Ka’abul Ahbar Rahimahullah berkata,
“Sesungguhnya Allah menyegerakan kehancuran bagi seorang hamba jika ia durhaka kepada orang tuanya. Kehancuran itu merupakan siksaan baginya. Dan sesungguhnya Allah menambah umur orang yang berbakti kepada orang tua agar bertambah pengabdian dan kebaikannya kepada mereka.”

Ka’abul Ahbar Rahimahullah ditanya tentang durhaka kepada orang tua, “Apakah itu?”
Ia menjawab, “Yaitu jika ayah atau ibunya menyumpahinya, ia tidak mempedulikannya,
jika mereka menyuruhnya, ia tidak mentaatinya,
jika meminta sesuatu kepadanya, ia tidak memberinya,
dan jika diberi amanat, ia mengkhianatinya.”

Seseorang datang kepada Nabi Shalallahu'alaihiwasallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, ayahku ingin merampas hartaku!” Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam bersabda, “Kamu dan hartamu untuk bapakmu”.

Seseorang datang kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah yang berhak mendapatkan perlakuan baik?”
Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam menjawab, “Ibumu.”
Beliau bertanya, “Kemudian siapa?”
Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam menjawab, “Ibumu.”
Ia bertanya lagi, “Kemudian siapa lagi?”
Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam menjawab, “Ibumu.”
Ia bertanya lagi, kemudian siapa?
Beliau menjawab, “Ayahmu. Kemudian yang paling dekat dan yang paling dekat.

Seseorang datang kepada Abu Darda’ Radhiyallahu'anhu dan berkata, “Hai Abu Darda’, sesungguhnya aku menikahi seorang wanita dan ibuku menyuruhku untuk menceraikannya.” Abu Darda’ berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda. “Orang tua adalah pintu tengahnya surga, jika kamu mau, hilangkan saja pintu atau jagalah”.

Dari Amr bin Murrah Al Juhani berkata:
Seseorang datang kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam dan bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana menurutmu jika aku melaksanakan shalat lima waktu, aku berpuasa Ramadhan, menunaikan zakat, berhaji, dan ke Baitullah…maka apa yang aku dapatkan?” Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam menjawab, “Barangsiapa melakukan hal itu ia bersama para Nabi, Shiddiqin, Syuhada, dan Sholihin, kecuali jika ia durhaka kepada orang tuanya.”
(HR. Ahmad dan Thabrani).

Ibnu Umar Radhiallahu'anhu melihat seorang seseorang sedang memanggul ibunya dengan lehernya sambil mengelilingi Ka’bah. Orang itu bertanya: “Hai Ibnu Umar, apakah dengan demikian berarti aku telah membalasnya?” Ibnu Umar menjawab, “Belum sedikit pun kamu membalasnya, namun kamu telah berbuat baik kepadanya. Dan Allah akan membalas atas sedikit kebaikanmu dengan balasan yang banyak”

Semoga Allah Subhanahuwata’ala jadikan kita hambanya yang bisa memuliakan orang tua kita, sebagaimana yang Dia kehendaki, sebagaimana yang Dia ridha…Aamiin.


AllahummaShalli  waSallim waBaariq‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa’alaa Aalihi waShohbihi wajma’iin.

Wednesday, June 17, 2015

BULAN CINTA


Marhaban Ya Ramadhan

Marhaban ahlan wa sahlan
(Selamat Datang (dengan Rela dan kekeluargaan))
Ya Ramadhan
(Duhai Ramadhan)
Ya Syahral Qur'aan 
(Duhai bulan Qur’aan)
Ya Syahran-Nur
(Duhai bulan bulan cahaya)
Ya Syahral-Ijtimaa'
(Duhai bulan bulan pertemuan)
Ya Syahral Fuqaraa
(Duhai bulan kaum miskin)
Ya Syahrat tawbati wal rujuu'
(Duhai bulan Tobat & Kembali)
Ya Syahrad du'aa'I wal wuquuf
(Duhai bulan Doa & Permohonan)
Ya Syahral fuqaraa'i wadh dhu'afaa'
(Duhai bulan Kaum miskin & Duafa)
Ya Syahral Ihsan
(Duhai bulan Kebaikan)
Ya Syahral 'ushat
(Duhai bulan bagi para Pendosa)
Ya Syahral Fawzi wal Falaah
(Duhai bulan Kemenangan dan Keberhasilan)
Ya Syahral Munaajaati wattasbih
(Duhai bulan Munajat & Pensucian)
Ya Syahral-da'wati wal-irsyaad
(Duhai bulan Seruan & Bimbingan)
Ya Syahral taraawiihi wal qiyaam
(Duhai bulan Tarawih & Berdiri)
Ya Syahral mashaabiiha wal qanaadiil
(Duhai bulan Lentera-Lentera & Segala Cahaya)
Ya Syahral Khazaa'ini wal kunuuz
 (Duhai bulan Kantung & Harta Karun)
Ya Syahral Malaa'ikati was-salaam
(Duhai bulan Malaikat-Malaikat & Keselamatan)
Ya Syahral ifthaari wal suhuur
(Duhai bulan Berbuka & Sahur)
Ya Syahral mutsiirati wal ashabb
(Duhai bulan Persemaian & Tuli dari segala dosa)
Ya Syahral ajri wal jazaa
(Duhai bulan Pembayaran kembali & Pemberian Pahala)
Ya  Syahrash shabri wash-shiyam
(Duhai bulan Sabar & Puasa)
Ya  Syahras-sa'aadah
(Duhai bulan Penuh Kegembiraan)
Ya  Syahral Miftaah
(Duhai bulan Kunci)
Ya Syahral washli wal wishal
(Duhai bulan Penyatuan & Pertemuan kembali)
Ya Syahral wadaadi wal muhabbah
(Duhai bulan Persahabatan & Cinta)

Ya Sayyidasy Syuhuur
(Duhai penghulu semua bulan)
Lam na'rif qadraka wa lam nahfazh hurmataka yaa syahral ghufraan
(Kami belum memperlakukanmu sesuai dengan kebesaran nilaimu, tidak pula mensucikanmu duhai bulan Pengampunan)
Fa ardha 'annaa wa laa tasykuu ilar-Rahmaan
(Namun demikian, ridhalah terhadap kami, jangan salahkan kami dihadapan Yang Maha Pengasih)
Wa Kun Syaahidan lanaa bi fadhli wa al-ihsan
(Bersaksilah untuk kami dengan Kebaikan dan Ihsan)


Diceritakan dari Salman Radhiallahu’anhu, Nabi Muhammad Shalallahu’alaihiwasallam memberikan khutbah kepada kami pada akhir hari bulan Sya'ban, baginda bersabda :

"Wahai manusia, telah hampir datang bulan suci Ramadhan yang penuh berkah, bulan yang didalamnya terdapat malam yang lebih baik dari ibadah seribu bulan. Bulan yang dijadikan oleh Allah, puasa pada siang harinya suatu kewajiban dan sholat pada malamnya (selain solat fardhu) sebagai sholat sunnah.

Siapa mendekatkan diri kepada Allah dengan amal kebaikan, pahalanya laksana orang yang melakukan kewajipan pada selain bulan Ramadhan.
Barangsiapa yang melakukan kewajiban di bulan tersebut, pahalanya laksana pahala orang yang melaksanakan tujuh puluh kewajiban di lain bulan suci Ramadhan.
Ia adalah bulan sabar, bagi orang yang bersabar tidak lain balasannya syurga,
dan merupakan bulan toleransi,
dan bulan ditambahkannya rizqi bagi orang Mukmin,
orang yang memberi buka puasa bagi orang yang berpuasa maka diampuni dosanya dan dibebaskan dari neraka dan baginya pahala seperti pahala orang yang diberinya berbuka puasa tanpa dikurangi sedikitpun pahalanya. Mereka bertanya : "Wahai Rasulullah Shalallahu’alaihiwasallam, tidaklah semua kami ini mampu memberikan makanan untuk berbuka puasa bagi orang lain? Maka Rasulullah Shalallahu’alaihiwasallam bersabda : "Allah akan memberikan pahala tersebut bagi orang yang memberikan makanan bagi orang yang berpuasa sekalipun hanya dengan satu biji kurma atau seteguk minuman air putih atau sepotong susu kering. 
Dan adalah Bulan Ramadhan awalnya (10 hari pertama) Rahmat, pertengahannya (10 hari kedua) Maghfirah (Keampunan) dan akhirnya (10 hari terakhir) Pembebasan dari neraka.
Sesiapa meringankan hamba sahayanya pada bulan itu Allah mengampuni dosanya dan dibebaskan dari neraka.
Maka perbanyakkanlah di  Bulan Ramadhan Empat (4) hal. Dua hal kamu mendapat Ridha Tuhanmu dan dua hal kamu tidak akan merasa puas dengannya. Adapun dua hal yang membuatkan kamu di-Ridhai Allah adalah : Mengucapkan dan bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan kamu mohon keampunan kepada-Nya. Adapun dua hal yang kamu tidak akan merasa puas dengannya adalah : Kamu minta syurga kepada-Nya dan minta perlindungan dari api neraka.
Dan sesiapa yang memberi minum orang yang berbuka puasa, maka Allah akan memberinya minum dari telagaku, sekali minum sahaja tidak akan haus selamanya sehingga masuk ke syurga ."

(Hadith riwayat Ibnu Khuzaimah dalam sahihnya dan diriwayatkan dari jalan al Baihaqi, dan diriwayatkan Abu Asy Syaikh Ibnu Hibban dalam at Tsawwab dengan ringkas (at Targhib wa at Tarhib II/94) dan Al Feqh Al Islamiy Wa Adillatuh (2/572))


Subhaanal malikil qudduus
Subhaanal malikil qudduus
Subhaanal malikil qudduus

“Allahumma inni a’udzu bi ridhooka min sakhotik
wa bi mu’afaatika min ‘uqubatik,
wa a’udzu bika minka
 laa uh-shi tsanaa-an ‘alaik,
anta kamaa atsnaita ‘ala nafsik” 
(Ya Allah, aku berlindung dengan keRidhoanMU dari kemarahanMU,
dan dengan kesalamatanMU dari hukumanMU
dan aku berlindung kepadaMU dari diriMU.
Tiada yang dapat memujiMU selayaknya Engkau dipuji,
Hanya Engkau-lah Yang mampu memuji diriMU sendiri)

Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’
 (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku)

Allahumma inna nas-aluka RidhoKa wal-Jannah
wa-na’uzubiKa min sakhathiKa wannaar
Allahumma innaka ‘afuwwun kariim
Tuhibbul  ‘afwa  fa’ fu  ‘anna
wa ‘an walidina wa ‘an jami’il mukminina walmukminat
walmuslimina walmuslimat,
birohmatika Ya arhamar-rohimiin
(Ya Allah, kami memohon dariMU RidhaMU dan Syurga
dan kami berlindung padaMu dari kemurkaanMU dan api neraka,
Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Mulia,
Engkau suka memberi ampun, maka ampunilah kami,
dan ibu bapaku, dan orang-orang mukmin lelaki dan perempuan,
orang-orang Islam lelaki dan perempuan, dengan RahmatMU, Duhai Yang Paling Penyayang dari seluruh penyayang.)

Hati-hati! Per-hati-kan-lah Hati!


AsSalamu'alaikum waRahmatuLLAH waBaraqatuh

Saudaraku, peradaban adalah adab manusia atau cara manusia beradab. Mutlak harus ada "aturan mainnya", ada peraturannya, ada hukum-hukumnya! Dan aturan itu harus dari Yang Satu Yang Paling Berkuasa, Yang Paling Berkehendak! Tidak lain tidak bukan harus dari Pencipta Manusia, Pencipta Alam Semesta ini beserta isinya! DIA lah ALLAH AZZA WA JALLA!
Pembahasan dan Pemikiran tentang "FREE WILL" atau Kehendak Bebas yang membolehkan manusia melakukan sesuatu sesuai kehendak dirinya...adalah tidak masuk diakal sama sekali! Berulang saya baca tentang Free Will itu! Iya Bagus pemaparannnya! iya bagus susunan katanya! Pinter keliatannya! Cerdas! Tapi sayangnya pemapar itu lompat-pikir dan lupa bahwa manusia itu banyak, berzaman-zaman dan ganas! Bukan hanya satu orang saja! Bukan dirinya saja! Dan bukan saat ini saja. Bila semua ber-"Free Will" maka akan berbenturanlah "Free Will" seseorang, sekelompok orang dengan "Free Will" orang lain atau kelompok lainnya!
Manusia adalah makhluk yang dimuliakan oleh penciptanya, yang tak akan mungkin ada satupun makhluk dapat menyamainNya sebagaimana DIA memuliakan hambaNya. Manusia diciptakan dengan baik, dalam keadaan baik dan diliputi oleh banyak kebaikan dari dan oleh Tuhan Yang Maha Baik, Allah Subhanahuwata'ala, Ar-Rahman Ar Rohim.
Maka Adab yang baik, yang mulia pun sudah semestinya melekat pada ummat manusia! Sudah Jatahnya Manusia, sehingga manusia bisa melakukannya!
Dan sebaik-baik adab adalah akhlak mulia yang diajarkan oleh Manusia Terbaik, Hamba TerbaikNya Allah Ta'aalaa, Dia lah Baginda Rasulullah Muhammad Shalallahu'alaihiwasallam! Pemimpin Para Nabi dan Rasul, Penutup Para Nabi dan Rasul, Penyempurna semua risalah yang dibawa Para Rasul dari Allah Azza Wa Jalla.


Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam bersabda:
"Sesungguhnya aku diutus semata-mata untuk menyempurnakan akhlak yang mulia"
(Hadits Riwayat Ibn Jarud)

Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam bersabda:
"Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak"
(Hadits Riwayat Al-Baihaqi)

Dari Sayyidina Jabir Radhiallahu'anhu meriwayatkan bahwa Baginda Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam bersabda:
"Diantara kamu orang yang paling aku cintai dan orang yang paling dekat kepadaku pada hari Kiamat ialah orang yang baik akhlaknya".
(Hadits Riwayat Imam At-Turmudzi)

Dari Sayyidina Abu Hurairah Radhiallahu'anhu meriwayatkan bahwa Baginda Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam telah ditanya amalan yang manakah dengannya ramai manusia akan memasuki syurga?
Baginda Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam bersabda:
"Taqwa (takut hanya kepada Allah Ta'aalaa) dan Akhlak Mulia".
Dan Baginda Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam ditanya amalan apakah yang dengannya ramai manusia akan ke neraka? Baginda Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam bersabda:
"Lidah dan Kemaluan (yang disalah gunakan / tidak adab)".
(Hadits Riwayat Imam At-Turmudzi)

Adab yang mulia itu lahir dari hati yang lembut yang di Rahmati oleh Allah Azza Wa Jalla. Bukan dari hati yang keras, keras dengan Ananiyah (ke-aku-an nya), keras dengan takabur-nya (kesombongannya).

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu'anhu, dari Nabi Muhammad Shalallahu'alaihiwasallam, Beliau bersabda:
“Tidak akan masuk sorga orang yang di dalam hatinya ada sifat sombong walaupun hanya sebesar zarrah (atom).”
Ada seorang laki-laki berkata:
“Sesungguhnya seseorang itu suka memakai pakaian yang bagus dan sandal (sepatu) yang bagus pula.”
Nabi Muhammad saw kembali bersabda:
“Sesungguhnya Allah itu Indah, suka pada Keindahan. Sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia.” 
(Hadits Riwayat Muslim)

Innahu laa yuhibbul mustakbiriin
Allah tidak mencintai orang-orang yang takabur.
(Al-Qur'anul Kariim, An-Nahl - 23)

Dan (ingatlah) ketika kami berfirman kepada malaikat: “Sujudlah kepada Adam.”Lalu mereka sekaliannya sujud melainkan Iblis; ia enggan dan takabur dan menjadilah ia golongan yang kafir.
(Al-Qur'anul Kariim, Al-Baqarah - 34)

TAKABUR ADALAH SIKAP UJUB:
Ujub itu merasa diri sendiri lebih hebat, lebih bagus dan lebih baik dari yang selainnya. Seperti yang dimiliki iblis

Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada Adam di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya; Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah."
(Al-Qur'anul Kariim, Al-A'raaf - 12)

TAKABUR ADALAH SIKAP MERENDAHKAN/MENGHINA ORANG LAIN:
Allah berfirman: "Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak ikut sujud bersama-sama mereka yang sujud itu?" Berkata Iblis:"Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk" 
(Al-Qur'anul Kariim, Al-Hijr - 32, 33)

TAKABUR ADALAH MENGANDALKAN AKAL LOGIKA ATAS PERINTAH ALLAH:
Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu semua kepada Adam", lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata:"Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?"
(Al-Qur'anul Kariim, Al-Isra' - 61) 

TAKABUR ADALAH MEMPERMASALAHKAN PERINTAH DAN LARANGAN ALLAH:
Dia (iblis) berkata: "Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau member tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil".
(Al-Qur'anul Kariim, Al-Isra' - 62)

Lalu bisakah kita? 
Tidak takabur? 
Mampukah kita terbebas dari masalah besar ini? 
Akan selamatkah kita dari bencana besar ini? Malapetaka besar ini? 
Tipu Daya besar ini?

Telah diceritakan oleh Ibnu al-Mubarak tentang seorang laki-laki yang bernama Khalid bin Ma’dan, dimana ia pernah bertanya kepada Mu’adz bin Jabal Radhiallaahu'anhu, salah seorang sahabat Nabi Muhammad Shalallahu'alaihiwasallam.

“Wahai Mu’adz! Ceritakanlah kepadaku suatu hadits yang telah engkau dengar langsung dari Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam, suatu hadits yang engkau hafal dan selalu engkau ingat setiap harinya disebabkan oleh sangat kerasnya hadits tersebut, sangat halus dan mendalamnya hadits tersebut. Hadits yang manakah yang menurut engkau yang paling penting?”

Kemudian, Khalid bin Ma’dan menggambarkan keadaan Mu’adz sesaat setelah ia mendengar permintaan tersebut, 
Mu’adz tiba-tiba saja menangis sedemikian rupa sehingga aku menduga bahwa beliau tidak akan pernah berhenti dari menangisnya. Kemudian, setelah beliau berhenti dari menangis, berkatalah Mu’adz: Baiklah aku akan menceritakannya, aduhai betapa rinduku kepada Rasulullah, ingin rasanya aku segera bersua dengan beliau.”

Selanjutnya Mu’adz bin Jabal Radhiallaahu'anhu. Ia mengisahkan sebagai berikut:
“Ketika aku mendatangi Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam, Beliau sedang menunggangi unta dan beliau menyuruhku untuk naik di belakang beliau. Maka berangkatlah aku bersama beliau dengan mengendarai unta tersebut. Sesaat kemudian beliau menengadahkan wajahnya ke langit, kemudian bersabdalah Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam:”

“Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah yang memberikan qodho (ketentuan) atas segenap makhlukNYA menurut kehendakNYA, ya Mu’adz!”. 
Aku menjawab, “Labbaik Yaa Sayyidal Mursaliin”.

“Wahai Mu’adz! Sekarang akan aku beritakan kepadamu suatu hadits yang jika engkau mengingat dan tetap menjaganya maka hadits ini akan memberi manfaat kepadamu di hadhirat Allah, dan jika engkau melalaikan dan tidak menjaga hadits ini maka kelak di Hari Qiyamah hujjahmu akan terputus di hadhirat Allah Ta’aalaa!”

“Wahai Mu’adz! Sesungguhnya Allah Tabaraka Wa Ta’ala telah menciptakan tujuh Malaikat sebelum Dia menciptakan tujuh langit dan bumi. Pada setiap langit tersebut ada satu Malaikat yang menjaga khazanah, dan setiap pintu dari pintu-pintu lelangit tersebut dijaga oleh seorang Malaikat penjaga, sesuai dengan kadar dan keagungan (Jalaalah) pintu tersebut.

Maka naiklah al-Hafadzah (malaikat-malaikat penjaga insan) dengan membawa amal perbuatan seorang hamba yang telah ia lakukan semenjak subuh hari hingga petang hari. Amal perbuatan tersebut tampak bersinar dan menyala-nyala bagaikan sinar matahari, sehingga ketika al-Hafadzah membawa naik amal perbuatan tersebut hingga ke langit dunia mereka melipat gandakan dan mensucikan amal tersebut. 
Dan ketika mereka sampai di pintu Langit Pertama, berkatalah Malaikat penjaga pintu kepada al-Hafadzah: “Pukulkanlah amal perbuatan ini ke wajah pemiliknya! 
Akulah ‘Shaahibul Ghiibah’, yang mengawasi perbuatan ghiibah (menggunjing orang), aku telah diperintah oleh Robb-ku untuk tidak membiarkan amal ini melewatiku untuk menuju ke langit yang berikutnya!”

Kemudian naiklah pula al-Hafadzah yang lain dengan membawa amal sholeh diantara amal-amal perbuatan seorang hamba. Amal sholeh itu bersinar sehingga mereka melipat-gandakan dan mensucikannya. Sehingga ketika amal tersebut sampai di pintu Langit Kedua, berkatalah Malaikat penjaga pintu kepada al-Hafadzah: 
“Berhentilah kalian! Pukulkanlah amal perbuatan ini ke wajah pemiliknya, karena ia dengan amalannya ini hanyalah menghendaki kemanfaatan duniawi belaka! 
Akulah ‘Malakal Fakhr’, malaikat pengawas kemegahan, aku telah diperintah Robb-ku untuk tidak membiarkan amal perbuatan ini melewatiku menuju ke langit berikutnya, sesungguhnya orang tersebut senantiasa memegahkan dirinya terhadap manusia sesamanya di lingkungan mereka!”. Maka seluruh malaikat melaknat orang tersebut hingga petang hari.

Dan naiklah al-Hafadzah dengan membawa amal seorang hamba yang lain. Amal tersebut demikian memuaskan dan memancarkan cahaya yang jernih, berupa amal-amal shodaqoh, sholat, shaum, dan berbagai amal bakti (al-birr) yang lainnya. 
Kecemerlangan amal tersebut telah membuat al-Hafadzah takjub melihatnya, mereka pun melipat-gandakan amal tersebut dan mensucikannya, mereka diizinkan untuk membawanya. Hingga sampailah mereka di pintu Langit Ketiga, maka berkatalah Malaikat penjaga pintu kepada al-Hafadzah: 
“Berhentilah kalian! Pukulkanlah amal ini ke wajah pemiliknya! 
Akulah ‘Shaahibil Kibr’, malaikat pengawas takabur (kesombongan), aku telah diperintah oleh Robb-ku untuk tidak membiarkan amal perbuatan seperti ini lewat dihadapanku menuju ke langit berikutnya! Sesungguhnya pemilik amal ini telah berbuat takabbur di hadapan manusia di lingkungan (majelis) mereka!”

Kemudian naiklah al-Hafadzah yang lainnya dengan membawa amal seorang hamba yang sedemikian cemerlang dan terang benderang bagaikan bintang-bintang yang gemerlapan, bagaikan Kaukab yang diterpa cahaya. 
Kegemerlapan amal tersebut berasal dari tasbih, shalat, shaum, haji dan umrah. Diangkatlah amalan tersebut hingga ke pintu Langit Keempat, dan berkatalah Malaikat penjaga pintu langit kepada al-Hafadzah:
 “Berhentilah kalian! Pukulkanlah amal ini ke wajah, punggung, dan perut dari si pemiliknya! Akulah ‘Shaahibul Ujbi’, malaikat pengawas ‘ujub (mentakjubi diri sendiri), aku telah diperintah oleh Robb-ku untuk tidak membiarkan amalan seperti ini melewatiku menuju ke langit berikutnya! Sesungguhnya si pemilik amal ini jika mengerjakan suatu amal perbuatan maka terdapat ‘ujub (takjub diri) didalamnya!”

Kemudian naiklah al-Hafadzah dengan membawa amal seorang hamba hingga mencapai ke Langit Kelima, amalan tersebut bagaikan pengantin putri yang sedang diiring, diboyong menuju ke suaminya. Begitu sampai ke pintu Langit Kelima, amalan yang demikian baik berupa jihad, haji dan umrah yang cahayanya menyala-nyala bagaikan sinar matahari. Maka berkatalah malaikat penjaga pintu kepada al-Hafadzah: 
“Berhentilah kalian! Pukulkanlah amal perbuatan ini ke wajah pemiliknya dan pikulkanlah pada pundaknya! 
Akulah ‘Shaahibul Hasad’, malaikat pengawas hasad (dengki), sesungguhnya pemilik amal ini senantiasa menaruh rasa dengki (hasad) dan iri hati terhadap sesama yang sedang menuntut ilmu, dan terhadap sesama yang sedang beramal yang serupa dengan amalannya, dan ia pun juga senantiasa hasad kepada siapapun yang berhasil meraih fadhilah-fadhilah tertentu dari suatu ibadah dengan berusaha mencari-cari kesalahannya! Aku telah diperintah oleh Robb-ku untuk tidak membiarkan amalan seperti ini melewatiku untuk menuju ke langit berikutnya!”

Kemudian naiklah al-Hafadzah dengan membawa amal perbuatan seorang hamba yang memancarkan cahaya yang terang benderang seperti cahaya matahari, yang berasal dari amalan menyempurnakan wudhu, shalat yang banyak, zakat, haji, umrah, jihad, dan shaum. Amal perbuatan ini mereka angkat hingga mencapai pintu Langit Keenam. Maka berkatalah malaikat penjaga pintu ini kepada al-Hafadzah: 
“Berhentilah kalian! Pukulkanlah amal perbuatan ini ke wajah pemiliknya, sesungguhnya sedikitpun ia tidak berbelas kasih kepada hamba-hamba Allah yang sedang ditimpa musibah (balaa’) atau ditimpa sakit, bahkan ia merasa senang dengan hal tersebut! 
Akulah ‘Shaahibur-Rahmah’, malaikat pengawas sifat rahmah (kasih sayang), aku telah diperintahkan Robb-ku untuk tidak membiarkan amal perbuatan seperti ini melewatiku menuju ke langit berikutnya!”

Dan naiklah al-Hafadzah dengan membawa amal perbuatan seorang hamba yang lain, amal-amal berupa shaum, shalat, nafaqah, jihad, dan wara’ (memelihara diri dari perkara-perkara yang haram dan subhat/meragukan). Amalan tersebut mendengung seperti dengungan suara lebah, dan bersinar seperti sinar matahari. Dengan diiringi oleh tiga ribu malaikat, diangkatlah amalan tersebut hingga mencapai pintu Langit Ketujuh. Maka berkatalah malaikat penjaga pintu kepada al-Hafadzah: 
“Berhentilah kalian! Pukulkanlah amalan ini ke wajah pemiliknya, pukullah anggota badannya dan siksalah hatinya dengan amal perbuatannya ini! 
Akulah ‘Shaahibudz-Dzikr’, malaikat pengawas perbuatan mencari nama-diri (ingin disebut-sebut namanya), yakni sum’ah (ingin termashur). Akulah yang akan menghijab dari Robb-ku segala amal perbuatan yang dikerjakan tidak demi mengharap Wajah Robb-ku! Sesungguhnya orang itu dengan amal perbuatannya ini lebih mengharapkan yang selain Allah Ta’ala, ia dengan amalannya ini lebih mengharapkan ketinggian posisi (status) di kalangan para fuqaha (para ahli), lebih mengharapkan penyebutan-penyebutan (pujian-pujian) di kalangan para ulama, dan lebih mengharapkan nama baik di masyarakat umum! Aku telah diperintah oleh Robb-ku untuk tidak membiarkan amalan seperti ini lewat dihadapanku! Setiap amal perbuatan yang tidak dilakukan dengan ikhlash karena Alloh Ta’ala adalah suatu perbuatan riya’, dan Allah tidak akan menerima segala amal perbuatan orang yang riya’!”

Kemudian naiklah al-Hafadzah dengan membawa amal perbuatan seorang hamba berupa shalat, zakat, shaum, haji, umrah, berakhlak baik, diam, dan dzikrullah Ta’ala. Seluruh malaikat langit yang tujuh mengumandang-kumandangkan pujian atas amal perbuatan tersebut, dan diangkatlah amalan tersebut dengan melampaui seluruh hijab menuju ke hadhirat Allah Ta’ala. Hingga sampailah dihadhiratNYA, dan para malaikat memberi kesaksian kepadaNYA bahwa ini merupakan amal sholeh yang dikerjakan secara ikhlash karena Allah Ta’ala.

Maka berkatalah Allah Ta’ala kepada al-Hafadzah, 
“Kalian adalah para penjaga atas segala amal perbuatan hambaKU, sedangkan Aku adalah Ar-Raqiib, Yang Maha Mengawasi atas segenap lapisan hati sanubarinya! Sesungguhnya ia dengan amalannya ini tidaklah menginginkan AKU dan tidaklah mengikhlashkannya untukKU! Amal perbuatan ini ia kerjakan semata-mata demi mengharap sesuatu yang selain AKU! 
AKU yang lebih mengetahui ihwal apa yang diharapkan dengan amalannya ini! Maka baginya laknatKU, karena ini telah menipu orang lain dan telah menipu kalian, tapi tidak-lah ini dapat menipu AKU! 
AKU-lah Yang Maha Mengetahui perkara-perkara yang ghaib, 
Maha Melihat segala apa yang ada di dalam hati, 
tidak akan samar bagi-Ku setiap apa pun yang tersamar, 
tidak akan tersembunyi bagiKU setiap apa pun yang bersembunyi! 
PengetahuanKU atas segala apa yang akan terjadi adalah sama dengan PengetahuanKU atas segala yang baqa (kekal), 
PengetahuanKU tentang yang awal adalah sama dengan PengetahuanKU tentang yang akhir! 
AKU lebih mengetahui perkara-perkara yang rahasia dan lebih halus, maka bagaimana AKU dapat tertipu oleh hambaKU dengan ilmunya? 
Bisa saja ia menipu segenap makhlukKU yang tidak mengetahui, tetapi AKU Maha Mengetahui Yang Ghaib, maka baginya laknatKU!”

Maka berkatalah malaikat yang tujuh dan 3000 malaikat yang mengiringi, 
“Yaa Robbana, tetaplah laknatMU baginya dan laknat kami semua atasnya!”, 
maka langit yang tujuh beserta seluruh penghuninya menjatuhkan la’nat kepadanya.

Setelah mendengar semua itu dari lisan Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam, maka menagislah Mu’adz dengan terisak-isak, dan berkata, “Wahai Rasulullah! Engkau adalah utusan Allah sedangkan aku hanyalah seorang Mu’adz, bagaimana aku dapat selamat dan terhindar dari apa yang telah engkau sampaikan ini?”

Berkatalah Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam:

“Wahai Mu’adz! Ikutilah Nabi-mu ini dalam soal keyakinan sekalipun dalam amal perbuatanmu terdapat kekurangan. 

Wahai Mu’adz! Jagalah lisanmu dari kebinasaan dengan meng-ghiibah manusia dan meng-ghiibah saudara-saudaramu para pemikul Al-Qur’aan. 

Tahanlah dirimu dari keinginan menjatuhkan manusia dengan apa-apa yang kamu ketahui ihwal aibnya! 

Janganlah engkau mensucikan dirimu dengan jalan menjelek-jelekan saudara-saudaramu!

Janganlah engkau meninggikan dirimu dengan cara merendahkan saudara-saudaramu!

Pikullah sendiri aib-aibmu dan jangan engkau bebankan kepada orang lain”

“Wahai Mu’adz! Janganlah engkau masuk kedalam perkara duniamu dengan mengorbankan urusan akhiratmu! 

Janganlah berbuat riya’ dengan amal-amalmu agar diketahui oleh orang lain 

dan janganlah engkau bersikap takabbur di majelismu sehingga manusia takut dengan sikap burukmu!”

“Janganlah engkau berbisik-bisik dengan seseorang sementara di hadapanmu ada orang lain! 

Janganlah engkau mengagung-agungkan dirimu dihadapan manusia, karena akibatnya engkau akan terputus dari kebaikan dunia dan akhirat! 

Janganlah engkau berkata kasar di majelismu 

dan janganlah engkau merobek-robek manusia dengan lisanmu, sebab akibatnya di Hari Qiyamah kelak tubuhmu akan dirobek-robek oleh anjing-anjing neraka Jahannam!”

“Wahai Mu’adz! Apakah engkau memahami makna Firman Allah Ta’ala: 
‘Wan naa syithooti nasython!’ 
(Demi yang mencabut/menguraikan dengan sehalus-halusnya! 
[Al-Qur'anul Kariim, An-Naazi’aat - 2])

Aku berkata, “Demi bapakku, Engkau, dan ibuku! Apakah itu wahai Rasulullah?”

Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam bersabda, “Anjing-anjing di dalam Neraka yang mengunyah-ngunyah daging manusia hingga terlepas dari tulangnya!”

Aku berkata, “Demi bapakku, engkau, dan ibuku! Ya Rasulullah, siapakah manusia yang bisa memenuhi seruanmu ini sehingga terhindar dari kebinasaan?”

Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam menjawab, “Wahai Mu’adz, sesungguhnya hal demikian itu sangat mudah bagi siapa saja yang diberi kemudahan oleh Allah Ta’ala! 
Dan untuk memenuhi hal tersebut, 
maka cukuplah engkau senantiasa berharap agar orang lain dapat meraih sesuatu yang engkau sendiri mendambakan untuk dapat meraihnya bagi dirimu, 
dan membenci orang lain ditimpa oleh sesuatu sebagaimana engkau benci jika hal itu menimpa dirimu sendiri! 
Maka dengan ini wahai Mu’adz engkau akan selamat, dan pasti dirimu akan terhindar!”

Khalid bin Ma’dan berkata, “Sayyidina Mu’adz bin Jabal Radhiallahu'anhu sangat sering membaca hadits ini sebagaimana seringnya beliau membaca Al-Qur’aan, dan sering mempelajari hadits ini sebagaimana seringnya beliau mempelajari Al-Qur’aan di dalam majelisnya”.

Astaghfirullahal'adziim
Laa ilaahailla anta, Subhaanaka, inni kuntu minadz dzoolimiin
Subhanakallahumma Ya Allah Tabaraka Wa Ta’ala,
Ya Ghofurur Rohiim,
Ya Arhamarrohimin irhamna birahmatika,
Allahumma innaka ‘Afuwwun Kariim, tuhibbul ‘afwa fa’fu anni Ya Kariim
Allahumma innii a'uudzu bika minka, laa uhshi tsa na an 'alaika, anta kamaa atsnaita 'alaa nafsik.

Saudaraku, mari kita perhatikan adab kita, akhlak kita, mari kita bersiap-siap untuk akhirat kita lebih dari persiapan kita pada urusan dunia kita.
Bersungguh-sungguhlah untuk menjadi hambanya yang sholeh, melakukan amal-amal sholeh, tanpa merasa kita telah menjadi hamba yang sholeh!
Teruslah memohon ampunanNYA!
Tetaplah merasa berdosa terhadap Allah! Dan yakinkanlah diri kita bahwa hanya kesombonganlah yang berani menyatakan diri ini tidak berdosa, tidak ada dosa!
Takutlah pada Allah!
Segeralah memohon ampunanNYA bila terjatuh dalam dosa!
Jangan berputus-asa terhadap ampunanNYA!
Jangan berprasangka buruk padaNYA!

Shalat-lah!
Semua amal ibadah terhimpun dalam Shalat!
Dzikir tertinggi adalah shalat!
Doa-doa berkumpul di dalam Shalat!
Juga Salam dan Shalawat!
Yang terus dan terus harus dilakukan, tanpa istirahat, tanpa bosan, tanpa kata sudah!
Sabar melakukannya hingga mati!


"Jadikanlah Sabar dan Shalat sebagai penolongmu dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', yaitu orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Rabb-nya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya."
(Al-Qur'anul Kariim, Al-Baqarah - 45, 46)


Dari Abu Yaala Syaddad bin Aus Radhiallahu'anhu, Nabi Shalallahu'alaihiwasallam bersabda: 
“Orang yang bijak itu ialah mereka yang perduli pada dirinya dan beramal untuk akhiratnya. Dan orang yang lemah itu ialah mereka yang menurutkan hawa nafsunya tapi bercita-cita untuk menjadi hamba Allah yang diRidhaiNya.”(Hadits Riwayat Imam At-Turmudzi)

Nabi Shalallahu'alaihiwasallam bersabda:
"Sesungguhnya Allah Subhanahuwata'ala mengasihi seorang apabila dia melakukan sesuatu pekerjaan dengan bersungguh-sungguh".(Hadits Riwayat Abu Yaala Syaddad bin Aus Radhiallahu'anhu)

Dari Abu Mas'ud, Uqbah bin Amru Al-Anshari Al-Badri Radhiallahu'anhu, dia berkata:
Telah bersabda Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam:
"Diantara sabda para Nabi yang terdahulu yang masih dipakai untuk orang ramai hingga kini ialah: Jika engkau tiada malu, buatlah sesuka hati kamu."

Dari Abu Hurairah Radhiallahu'anhu, dia berkata:
Telah bersabda Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam:
"Janganlah kamu berdengki-dengkian, 
dan jangan kamu tipu-menipu, 
dan jangan benci-membenci, 
dan jangan musuh memusuhi, 
dan jangan kamu berjual beli atas jual beli setengah yang lain, 
dan jadilah kamu sekalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. 
Seorang Muslim adalah bersaudara sesama Muslim, 
tidak boleh menganiayanya, 
tidak boleh membiarkannya tertindas,
 tidak boleh mendustainya 
dan tidak boleh menghinanya.
Taqwa itu berpuncak dari sini_sambil Nabi Shalallahu'alaihiwasallam menunjukkan ke dadanya tiga kali. 
Sudah memadailah kejahatan seorang itu jika ia menghina saudaranya yang Islam. Seorang Muslim terhadap seorang Muslim yang lain adalah diharamkan 
darahnya, 
harta bendanya 
dan kehormatannya."
Dari Thauban Radhiallahu'anhu meriwayatkan bahwa aku telah mendengar Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam bersabda:
 
Berbahagialah orang-orang yang ikhlas. Mereka adalah pelita di dalam gelap, dan karena mereka padamlah fitnah-fitnah yang besar.
(Hadits Riwayat Baihaqi)

Dari Muaz bin Jabal Radhiallahu'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Radhiallahu'anhu bersabda:
"Barangsiapa memalukan saudaranya yang muslim dengan sesuatu dosa yang dia telah bertaubat dengannya, Allah tidak akan mematikannya sehinggalah dia sendiri terjerumus ke dalam dosa tersebut."
(Hadits Riwayat Imam At-Turmudzi)

DAN HATI-HATI!
PER-HATI-KAN-LAH HATI!
Pada amalan itukah kita tertarik?
Merasa bisakah kita mencapai Ridha Allah?
Seolah-olah hanya ada diri kita saja dengan Allah?
Lupakah kita pada yang telah menyampaikannya pada kita?
Dari lisan suci Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam lah manusia bisa tau Allah!
Dan dari guru-guru sucilah_yang terus berada dihadiratNya Rasulullah Muhammad Shalallahu'alaihiwasallam_maka cinta ini bisa sampai pada kita!
RASAKANLAH!
RESAPILAH!

Dan....
Salah satu kisah Cinta itu:

Sayyidina Umar bin Khattab Radhiallahu'anhu ketika berkunjung ke rumah Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam menyaksikan Pemimpin Agung yang sangat dimuliakan itu sedang terbaring di atas tilam kasar nan rusak. 

Kesedihan Umar bertambah ketika tekstur tilam usang itu membekas di punggung Nabi Shalallahu'alaihiwasallam.
Di hadapan Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam, "Singa Padang Pasir" ini pun menumpahkan air matanya. 

"Apa yang menyebabkan Engkau menangis, wahai Umar?" tanya Baginda Nabi Shalallahu'alaihiwasallam.

"Aku melihat Kisra serta Raja-Raja lain menikmati tidur di atas ranjang mewah beralaskan sutera. Tetapi di sini Aku melihat Engkau tidur beralaskan tikar semacam ini."

Dengan lembut, Baginda Nabi Shalallahu'alaihiwasallam berkata kepada Sayyidina Umar bin Khattab Radhiallahu'anhu

"Wahai Umar, tidakkah Engkau sependapat denganku. Kita lebih suka memilih kebahagiaan akhirat sedangkan mereka memilih dunia."

Hati Sayyidina Umar bin Khattab Radhiallahu'anhu bergetar mendengar jawaban tersebut. 
Sayyidina Umar bin Khattab Radhiallahu'anhu bersyukur menjadi saksi hidup tentang kebesaran dan kemuliaan pribadi Rasulullah Shalallahu'alaihiwasallam, manusia terpilih yang sangat dihormatinya itu. 
*Kisra (Raja Persia), Kaisar (Raja Romawi)

------------------------------------------------------------------
Disusun dengan cinta untuk saudara-saudaraku tercinta semuanya.
Atas segala yang tidak berkenan, maafkanlah...
Maafkan pendosa ini,
Doakanlah juga saudaramu si fakir ini
-Muhammad Ihsan Kahfi As-Syatha-

Semoga Allah ta'ala bahagiakan kalian semua saudaraku, lahir-batin, dunia-akhirat,
Aamiin, aamiin, aamin Ya Robbal'alamin
AllahummaSholli waSallim waBaariq ala Sayyidina wa Mawlana Muhammad Shalallahu'alaihiwasallam.


 
ans!!